Rehabilitasi Terpadu dan Partisipatif Dukung Kelestarian Mangrove

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Rehabilitasi tanaman mangrove di pesisir Lampung dilakukan secara terpadu dan partisipatif. Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Way Seputih Way Sekampung, Lampung, Idi Bantara, S.Hut.,M.Sc., menyebut program rehabilitasi dilakukan terpadu dengan masyarakat dan pemerintah desa. Peran partisipatif juga melibatkan Kelompok Tani Hutan (KTH) penyangga.

Idi Bantara mengatakan, rehabilitasi mangrove di wilayah pesisir provinsi Lampung mencapai 500 hektare. Wilayah tersebut membentang dari Kabupaten Tulang Bawang, Lampung Timur, Lampung Selatan hingga Pesawaran. Rehabilitasi terpadu dilakukan melalui padat karya. Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melibatkan partisipasi masyarakat.

“Di kawasan seluas 60 hektare, ditanam sebanyak 300.000 batang. Konsep rehabilitasi dilakukan dengan pola rumpun jenis bakau (Rhozopora Sp) pendukung mangrove jenis api api (Avicennia). Sebanyak 600 rumpun ditanam oleh KTH Setia Dharma III dan aparatur Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang. Adanya program terpadu dan partisipatif, mendukung upaya konservasi mangrove berkelanjutan,” terang Idi Bantara,S.Hut., M.Sc., saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (17/3/2021).

Idi Bantara, S.Hut., M.Sc., (kanan) Kepala BPDASHL Way Seputih Way Sekampung Lampung. saat mengunjungi kawasan konservasi mangrove Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Kamis (1/10/2020) -Dok: CDN

Ia menjelaskan lagi, rehabilitasi dan restorasi pada tapak khusus memakai metode rumpun, sangat efektif karena potensi tumbuh cukup tinggi untuk pelindung daratan oleh gelombang. Secara ekologis, vegetasi mangrove akan menjadi lokasi pemijahan biota laut dan membentuk ekosistem berkelanjutan, sebagai bagian suksesi alam.

“Korelasi antara rehabilitasi mangrove dan budi daya perikanan, cukup erat. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan pola kolaborasi. Peran terpadu dan partisipatif melibatkan unsur Kementerian Kelautan dan Perikanan

(KKP) dan petambak. Rehabilitasi mangrove dilakukan dengan penerapan silvofishery,” katanya.

Penerapan silvofishery bertujuan mempertahankan perikanan berkelanjutan dan kehutanan. Sabuk alami mangrove di pesisir Timur Lampung Selatan, menjadi daya dukung tambak ikan bandeng, udang vaname.

Mendapat dukungan terpadu dari Dinas Kehutanan, Dinas Perikanan, pemeliharaan mangrove dilakukan dengan konsep cluster tambak. Cluster tambak dilakukan di pantai Desa Berundung, Kecamatan Ketapang.

“Pelibatan unsur masyarakat dalam menjaga vegetasi mangrove dilakukan berkesinambungan, tidak hanya saat penanaman bibit, tapi hingga perawatan,”cetusnya.

Rehabilitasi mangrove terpadu, sebut Idi Bantara, dilakukan berkoordinasi dengan instansi terkait. Dalam jangka lima tahun terakhir, kepedulian instansi dan masyarakat melestarikan mangrove meningkat. Hal itu terlihat dengan adanya program penghijauan pesisir pantai memakai mangrove. Upaya tersebut diakuinya harus diimbangi dengan peran partisipatif masyarakat. Caranya dengan menjaga dan melakukan penyulaman bibit yang mati.

Rehabilitasi mangrove secara terpadu juga berperan untuk pencegahan bencana alam. Hasran Hadi, ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Lamsel, melakukan penanaman 1000 pohon mangrove. Kegiatan di Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo pada Sabtu (13/3),  dilakukan di pantai Cukuh Perak, pantai Muara Indah. Konsep terpadu dan partisipatif dilakukan untuk mencegah abrasi.

“Sebagai lembaga berkaitan dengan kebencanaan, kami memandang perlu untuk ikut melestarikan mangrove,” sebutnya.

Kegiatan itu, sebut Hasran Hadi, dilakukan rutin. Sebab, selain pantai Barat Tagana juga menanam mangrove di pantai Timur. Lokasi penanaman mangrove yang dilakukan berada di pantai Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi. Langkah itu bisa menjadi cara merehabilitasi mangrove yang rusak. Selain bisa mencegah bencana bagi masyarakat petambak, mangrove menjaga lahan dari abrasi.

Peran partisipatif diakui Rusli, warga Desa Sumur, Kecamatan Ketapang. Ia pun mengaku menanam mangrove jenis pedada. Efektif mencegah longsor dan muara sungai mangrove menjaga terjangan angin. Hasilnya, permukiman warga terlindung dari bencana alam. Ia dan masyarakat juga melakukan penanaman jenis ketapang, kemiri laut, waru laut. Penanaman pohon itu bertujuan untuk mendukung pertumbuhan mangrove di sekitar pantai dan muara sungai.

Lihat juga...