Rentan Gangguan Psikologis Saat PJJ, Pemakaian Gawai Dibatasi

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Sistem Pembelajaran Tatap Muka (PTM) diganti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) memasuki dua semester. Pola belajar yang berubah tersebut berdampak pada rentannya gangguan psikologis bagi guru, orangtua dan siswa.

Hal itu diungkapkan Sr. Vincent, HK, guru Bimbingan Konseling (BK) SMP Xaverius 1 Teluk Betung, Bandar Lampung.

Masalah klasik saat PJJ sebut Sr. Vincent berupa kuota internet, akses internet, fasilitas relatif telah terpenuhi. Namun sejumlah orangtua mengeluh berubahnya pola kebiasaan anak. Perubahan perilaku secara psikologis dialami oleh sebagian besar orangtua. Terlebih saat PJJ pada semester ganjil dan genap nilai bidang studi anjlok, target Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru berubah.

Kondisi psikologis orangtua saat pandemi sebut Sr. Vincent ikut mempengaruhi anak. Sebagian orangtua sebutnya dominan ikut terlibat dalam mengatasi kesulitan anak saat belajar. Sebagian orangtua bahkan menyebut justru ikut belajar, mengerjakan tugas yang diberikan sekolah. Masa adaptasi yang dilakukan oleh orangtua, guru, siswa memunculkan beban psikologis tak terhindarkan.

“Pihak sekolah memberikan pemahaman kepada orangtua secara massal dengan melakukan zoom meeting namun tetap memberikan pendampingan personal dengan cara mengundang orangtua ke sekolah yang anaknya mengalami kendala saat PJJ,” terang Sr. Vincent, HK saat ditemui Cendana News, Kamis (4/3/2021).

Sr. Vincent HK, guru Bimbingan Konseling SMP Xaverius 1 Teluk Betung, Bandar Lampung, Kamis (4/3/2021). -Foto Henk Widi

Biarawati dari konggregasi Hati Kudus (HK) yang berkarya sebagai guru BK itu paham perubahan kondisi psikologis orangtua, siswa.  Orangtua sebutnya harus mampu memahami situasi PJJ selama pandemi dan mengontrol emosi. Sebab tindakan, emosi tidak stabil di hadapan anak akan berdampak buruk. Masa PJJ sebutnya tidak hanya target RPP yang harus tercapai tapi perhatian pada aspek psikologis.

Sr. Vincent sebut mendapat laporan sejumlah orangtua yang anaknya sulit menangkap pelajaran. Tekanan psikologis saat belajar PJJ dilampiaskan dengan aktivitas lain berbentuk hiburan. Hiburan menggunakan media sosial mengakibatkan arah dan fungsi gawai untuk belajar berubah. Kecenderungan memakai gawai akhirnya mengubah pola perilaku anak.

“Banyak orangtua mengaku anak rajin ikut zoom meeting rutin semua mata pelajaran, namun tugas dari guru tidak dikerjakan,” cetusnya.

Alih alih mengerjakan tugas dengan pemberian kuota internet, fasilitas laptop dan gawai memadai. Anak justru sibuk dengan media sosial sepanjang hari. Beberapa orangtua bahkan telah mengalami pola tidur anak berubah hingga larut malam. Saat bangun pagi enggan dibangunkan karena tidur terlalu larut. Teman baru berupa gawai berimbas pola tidur anak mengganggu kesehatan.

Lihat juga...