Sambal Buatan Warga Malang Ini Tembus Pasar Luar Negeri 

Editor: Koko Triarko

Heni Wardhani bersama sang suami menunjukkan aneka sambal buatannya, Selasa (29/3/2021). -Foto: Agus Nurchaliq

MALANG – Berawal dari kegemarannya akan rasa pedas, Heni Wardhani, kini mampu mengembangkan usaha sambal botol siap saji dengan berbagai varian rasa. Tidak hanya dalam negeri, pemasarannya pun juga telah menjangkau pasar luar negeri. 

“Awalnya saya memang suka pedas, suka beli sambal juga sampai akhirnya coba-coba buat untuk konsumsi pribadi. Ternyata banyak saudara yang suka dan bilang kok tidak dipasarkan saja. Dari situ saya kemudian termotivasi membuat sambal untuk dijual,” ujar Heni, saat ditemui di lokasi pameran.

Diceritakan Heni, sambal buatannya mulai diproduksi sejak September 2013. Bermula hanya dari satu varian, sampai sekarang sudah ada 23 varian sambal. Di antaranya sambal bawang merah, lombok ijo, balado teri medan, balado pete teri, asem teri pedas, balado jengkol pedas, ikan asap gurih pedas, cumi pelangi pedas dan oseng tuna asap pedas. Selain dari idenya sendiri, diakui Heni beberapa varian sambalnya tercipta karena terinspirasi dari konsumen.

“Dari sekian banyak varian sambal, yang paling laris adalah sambal bawang, cumi pelangi dan sambal tuna asap,” sebutnya.

Untuk harga, Heni membandrol Rp23 ribu per botol serta menyediakan paket hemat Rp68 ribu isi 3 botol dan Rp135 ribu isi 6 botol sambal.

Disampaikan Heni, melalui marketplace penjualan sambalnya tidak hanya ke seluruh Indonesia, tetapi juga ke luar negeri. “Untuk ke luar negeri ada juga yang diekspor ke Turki, Malaysia, Jepang, Hongkong dan Yunani. Sambal  ini juga kerap dijadikan bekal haji atau umroh,” ucapnya.

Berlokasi di daerah Plaosan Permai Estate, kota Malang, dalam satu bulan Heni bisa memproduksi 1.500 botol sambal atau sekitar 18 ribu botol sambal per tahun.

“Dalam satu minggu produksi, saya biasanya menghabiskan sekitar 1 kuintal bahan campuran pembuat sambal seperti cabai, tomat, bawang dan sebagainya. Alhamdulillah, hingga saat ini omzet per tahun mencapai di atas Rp300 juta,” ungkapnya.

Namun demikian, pendapatan usahanya tersebut sempat mengalami penurunan di awal-awal masa pandemi. “Di awal masa pandemi memang ada penurunan hingga 70 persen. Tapi kalau sekarang sudah mulai meningkat lagi, sudah lebih dari 50 persen,” tuturnya.

Sementara itu disinggung adanya lonjakan harga cabai, Heni mengaku berpengaruh pada margin Harga Pokok Penjualan (HPP) produknya. Namun demikian, ia memastikan meroketnya harga cabai tidak mengubah kualitas, rasa dan komposisi sambal buatannya.

“Sebenarnya kalau kita menghitung HPP, memang marginnya berkurang jauh, tapi kan paling harga cabai mahal hanya sekitar 3-4 bulan saja, tidak sepanjang tahun. Karenanya, selama harga cabai tinggi, kita mencari cabai langsung ke petani agar harganya terjangkau,” akunya.

Beruntung pula ketika harga cabai naik, harga bahan baku lainnya masih stabil, dan biasanya pada saat harga cabai mahal, omzetnya.

Sementara itu salah satu pembeli, Isna, mengaku senang dengan produk sambal siap saji buatan Heni. Selain rasa pedasnya pas di lidah, pilihan varian sambalnya juga banyak. “Kalau saya dan suami suka varian sambal bawang dan balado pete teri,” tandasnya.

Lihat juga...