Sampah di Teluk Lampung Didominasi Plastik

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG  – Fenomena sampah terbuang di perairan laut Teluk Lampung masih didominasi sampah plastik. Sampah yang dibuang ke sungai terbawa hingga mencemari laut. Meski demikian kesadaran sebagian masyarakat pesisir pantai menjaga kebersihan perairan mulai meningkat.

Nurhadi, warga Desa Sukajaya Lempasing, Kecamatan Padang Cermin menyebut sampah berasal dari arus laut.

Sampah terbawa arus mengakibatkan pendangkalan dan mengganggu aktivitas memancing Nurhadi, salah satu warga Desa Sukajaya, Lempasing, Padang Cermin, Pesawaran, Rabu (3/3/2021) – Foto: Henk Widi

Wilayah Kabupaten Pesawaran sebut Nurhadi kaya akan perairan laut menerima sampah dari berbagai sumber.

Sejumlah sungai yang mengalir di kota Bandar Lampung, Pesawaran mengalir ke Teluk Lampung. Meski pembersihan terus dilakukan penambahan volume sampah kerap terjadi saat penghujan. Banjir membawa sampah sungai ke perairan berdampak pada perikanan tangkap, budi daya.

Pada sektor perikanan tangkap, kondisi perairan yang kotor berdampak pada ikan. Sebab material sampah mikroplastik yang hancur ikut terurai dan sebagian dimangsa ikan laut.

Pembersihan sampah oleh warga sekitar pantai kerap dilakukan. Sebab sebagian pantai menjadi destinasi wisata yang harus terjaga keindahannnya. Warga juga membersihkan sampah untuk menjaga proses budi daya ikan sistem keramba.

“Sampah plastik dan jenis lain akan berdampak pada kotornya perairan laut sehingga budi daya ikan jenis kerapu dan ikan lain di perairan Teluk Lampung akan terdampak. Kesadaran menjaga kebersihan pantai juga dilakukan pengelola objek wisata dengan membuat tempat sampah,” terang Nurhadi saat ditemui Cendana News, Rabu (3/3/2021).

Pengurangan sampah lanjut Nurhadi berdampak positif bagi sektor perikanan tangkap. Sebab warga yang berprofesi sebagai nelayan masih memanfaatkan jaring, bubu lipat, rawai dasar dan rawai hanyut.

Keberadaan rawai hanyut yang memakai pelampung kerap terkendala saat arus perairan membawa sampah. Senar pancing kerap putus dan terbawa arus berimbas nelayan kehilangan alat tangkap.

Sebagian warga sebut Nurhadi masih melakukan pola tangkap ikan ramah lingkungan. Penggunaan bubu, pancing rawai apung dan jaring kerap tertambat oleh sampah.

Saat mengangkat sampah didominasi plastik warga memilih mengangkatnya ke daratan lalu membakarnya. Warga yang masih memanfaatkan air laut untuk budidaya pertambakan juga membersihkan sampah dengan penyaringan.

Lihat juga...