Sektor Pertanian Miliki Peran Penting Serap Tenaga Kerja

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Kontribusi sektor pertanian pada penyerapan tenaga kerja jadi penyumbang perekonomian di Lampung Selatan.

Wagiman, salah satu petani menyebut pola kerja berbasis tradisional masih memberi peluang bagi warga mendapatkan pekerjaan. Warga Desa Gandri, Kecamatan Penengahan itu memilih jadi buruh pengolah tanah. Ia memakai tenaga sapi untuk membajak lahan.

Wagiman bilang pertanian jadi sektor pendukung untuk memenuhi kebutuhan warga pedesaan. Sistem pertanian tradisional dengan mengandalkan tenaga kerja ternak tetap dipertahankan.

Meski memiliki lahan terbatas ia menyebut masih bisa mendapatkan sumber penghasilan dari jasa. Pengolahan lahan yang menjadi jasa pertanian dilakukan olehnya  membajak lahan untuk tanaman jagung.

Mengandalkan dua ekor sapi peranakan ongole (PO) Wagiman bilang mendapat order setiap pekan. Menyesuaikan luasan lahan, ia bisa menyelesaikan pembajakan lahan maksimal dua hari.

Upah yang dibayarkan sesuai kesepakatan, rata-rata hari orang kerja (HOK) yang umum di pedesaan. Ia masih mendapat upah satu lahan Rp350.000 dengan luas setengah hektare.

“Lahan penanaman jagung sebelumnya telah diolah memakai traktor. Pada tahap penanaman kedua cukup memakai tenaga sapi untuk membajak atau dikenal dengan istilah pelantir. Bertujuan menggemburkan tanah sekaligus membuat guludan pengatur jarak tanam dan fasilitas pengalir air,” terang Wagiman, saat ditemui Cendana News, Senin (8/3/2021).

Wagiman bilang, hasil sekali bekerja sebutnya sudah lumayan di desa. Sebulan ia masih bisa memenuhi order membajak untuk sebanyak empat bidang lahan jagung.

Dengan rata-rata hasil Rp350.000 ia masih bisa mengantongi Rp1,4 juta sebulan. Agar ternak tidak kelelahan ia memiliki empat ekor sapi khusus untuk membajak. Setelah dua pekan sapi akan diistirahatkan dan memakai sapi lain.

Kontribusi tenaga kerja yang terserap dalam bidang pertanian juga diakui oleh Sarjono dan Marniati. Dua warga Desa Sumur, Kecamatan Ketapang itu memilih menjadi buruh tajuk dan tanam benih jagung.

Fase penanaman hingga panen menjadi sumber lapangan kerja yang berkelanjutan. Seusai pengolahan lahan ia bisa menjadi buruh tajuk atau tugal membuat lubang penanaman.

“Sebulan bisa bekerja pada puluhan bidang lahan jagung, saat masa tanam bersamaan tenaga kerja kami kerap dicari,” bebernya.

Penanaman benih jagung sistem tugal menyerap tenaga kerja, Sarjono menjadi juru tugal di lahan jagung Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Senin (8/3/2021) – Foto: Henk Widi

Sarjono bilang ia mendapat upah harian Rp50.000 termasuk diberi makanan dan minuman. Bisa mengerjakan proses tajuk pada sebanyak 20 bidang lahan ia mendapatkan upah Rp1 juta.

Hal yang sama diakui Marniati yang bekerja sebagai buruh tanam biji jagung. Ia bisa mendapatkan order dari puluhan pemilik lahan dengan hasil per bulan lebih dari Rp1 juta.

Penyerapan tenaga kerja pertanian sebutnya sangat diperlukan. Sebab pemilik lahan masih belum memakai alat modern. Alat modern penanam biji jagung (corn seeder) yang pernah digunakan mulai ditinggalkan petani.

Sebab kedalaman lubang kerap dangkal sehingga biji berpotensi tidak tumbuh, dimangsa hama tikus. Sistem tugal dengan kayu berujung besi memudahkan penanaman jagung lebih cepat dan dalam.

Pada sektor pertanian padi, penyerapan tenaga kerja cukup besar. Sumini, buruh tanam atau tandur di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan bilang alih pola penanaman membantunya mendapat penghasilan.

Sebelumnya pola tanam memakai sistem ceblok dengan kewajiban memanen padi yang ditanam. Namun kini sistem upahan dipilih agar buruh tanam mendapat upah tanpa menunggu hasil panen.

Menyesuaikan luasan lahan tiga hingga lima buruh tanam bisa digunakan. Setiap buruh tanam dengan sistem kerja harian dibayar Rp75.000.

Ia masih bisa menyelesaikan penanaman dalam waktu sehari. Setelah masa penanaman petani seperti dirinya yang tidak memiliki lahan masih bisa menjadi buruh panen.

Sistem borongan per petak bisa diupah Rp350.000. Pola kerja tersebut memberi hasil bagi petani di desa yang tidak memiliki lahan dan bekerja sebagai buruh.

Lihat juga...