Selama PJJ Sekolah di Lampung Beri Ruang Konsultasi Psikososial

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Keluhan anak yang bosan saat melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) diakui Lusia Yuli Hastiti.

Tenaga pendidik di salah satu SMP Marga Sekampung, Lampung Timur itu menyebut, ada siswa yang bahkan minta izin untuk menikah. Pasalnya saat pandemi Covid-19 berimbas pada ekonomi keluarga. Tak sanggup membeli kuota internet dan minimnya penghasilan orangtua jadi kendala.

Lusia Yuli Hastiti, salah satu guru di SMP Marga Sekampung, Lampung Timur membiasakan membaca buku sebelum kegiatan di sekolah, Kamis (18/3/2021) – Foto: Henk Widi

Lusia Yuli Hastiti bilang, kendala psikologis dialami oleh guru, orangtua dan siswa. Keinginan untuk menikah dari siswa ditanggapi dan diselesaikan dengan pendekatan personal.

Ia bahkan lalu memberikan ruang konsultasi bagi siswa dan orangtua untuk mencari solusi terbaik.

Persoalan capaian kurikulum sebutnya, juga kerap terhambat oleh kendala sistem PJJ dan keterbatasan siswa maupun orangtua.

Bagi siswa di kawasan yang jauh dari kota, Lusia mengaku menerapkan sistem pembelajaran kombinasi. Sejumlah siswa yang terkendala PJJ didatangi dengan sistem home visit.

Dukungan psikososial saat home visit sebutnya menjadi pedekatan bagi siswa dan orangtua. Kendala yang dihadapi mulai dipecahkan agar anak tetap bisa menunaikan kewajiban capaian kurikulum.

Setahun alami kebosanan, sejumlah siswa bahkan enggan belajar. Tekanan psikologis sebutnya dialami siswa saat gangguan internet. Loading yang lambat saat mengerjakan tugas berbasis Google Chrome.

Sejumlah orangtua bahkan ikut terimbas secara psikologis karena anak emosi, kerap marah. Menyalahkan sinyal berimbas emosi sebagian diluapkan dengan tidak keluar kamar.

“Beberapa orangtua akui anak jadi enggan bersosialisasi, lebih memilih meluapkan permasalahan dengan kawan di media sosial tanpa difilter. Termasuk dalam penggunaan kalimat, kata-kata kasar yang menurunkan nilai-nilai kesopanan keluarga sehingga para guru kerap jadi ajang curahan hati orangtua,” terang Lusia Yuli Hastiti saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (18/3/2021).

Curahan hati atau curhat sebut Lusia sapaan akrabnya merupakan bagian dari pendampingan psikososial. Orangtua sebagai responden sebutnya 99 persen mengalami kendala yang sama pada anak.

Semula kendala yang sama dialami orangtua dalam penyiapan fasilitas gawai, internet saat PJJ. Namun setahun berlalu dampak psikologis anak jadi jarang bersosialisasi dengan orangtua banyak dikeluhkan.

Pembagian waktu saat di rumah sebut Lusia jadi kendala orangtua. Sebab gawai yang diberikan bertujuan untuk belajar PJJ, untuk tujuan pendidian. Namun faktanya pengeluaran kuota internet membengkak untuk pemakaian media sosial.

Youtube, tiktok, Instagram dan jejaring sosial lain lebih banyak diakses. Imbasnya pemakaian kuota membengkak berimbas pada permintaan uang lebih banyak.

“Sebagian orangtua dari ekonomi terbatas akan sulit memenuhi kebutuhan anak, sementara anak tahunya hanya menuntut,” bebernya.

Dampak psikologis bagi anak dan orangtua selama PJJ sebutnya cukup terasa. Meski sebagian orangtua enggan berkonsultasi namun tekanan psikologis berasal dari penggunaan teknologi. Pembekalan dan ruang konsultasi sebutnya tetap dibuka bagi orangtua. Tanpa harus datang ke sekolah via telepon setiap guru memberi ruang konsultasi.

Capaian nilai akademik, kendala selama PJJ dialami orangtua siswa diakui Ar. Vincent HK. Guru Bimbingan Konseling (BK) itu menyebut selama PJJ tingkat minat konsultasi orangtua meningkat.

Pasalnya selama ini guru BK kerap dianggap hanya mengatasi kendala anak bermasalah. Namun saat pandemi Covid-19 tekanan psikologis juga dialami orangtua.

Sejumlah kekerasan verbal sebut Sr.Vincent, HK berpotensi dilakukan orangtua. Sebab di sela kesibukan pekerjaan masih harus membantu anak belajar.

Forum diskusi dengan orangtua, layanan psikososial selalu diberikan selama masa pandemi. Forum itu menjadi cara menyiasati kejenuhan orangtua dan anak saat belajar jarak jauh.

“Peran guru BK saat PJJ semakin bertambah karena penyamaan persepsi sejumlah orangtua hadapi anak yang tidak maksimal,” cetusnya.

Kreativitas guru dalam mengajar sebut Sr. Vincent HK jadi tuntutan agar anak tidak gampang bosan. Nilai-nilai sosial pada anak dan keluarga menjadi cara menjaga kesehatan mental. Sebab PJJ selama pandemi mau tidak mau berdampak pada keluarga.

Situasi kesehatan mental yang ringan hingga berat sebutnya bisa diketahui dengan layanan psikososial. Sejumlah orangtua secara mandiri datang ke sekolah untuk berkonsultasi.

Christeva, salah satu anak SMP kelas 8 mengaku kerap terbebani saat sinyal internet alami gangguan. Tuntutan waktu pengumpulan tugas, absensi kerap membuatnya bosan.

Ia bahkan harus berkonsultasi dengan gurunya untuk sejumlah mata pelajaran. Sebab sebagian pelajaran yang dikerjakan mendapat nilai kecil. Dibanding belajar tatap muka ia mengakui nilai banyak yang anjlok saat PJJ.

Rasa minder dan juga tidak percaya diri diakui karena nilai yang anjlok. Beruntung sejumlah guru memberi kesempatan untuk remedial. Nilai yang anjlok sebutnya diakibatkan materi pelajaran yang tidak terserap dengan baik.

Ia juga memilih media sosial untuk sosialisasi menghilangkan kejenuhan dengan teman sekelas. Sebab sebagian sudah tidak bertemu tatap muka.

Lihat juga...