Sistem Irigasi Tetes di NTT Butuh Modal Besar

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Sistem pertanian irigasi tetes yang dikembangkan para petani di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, dinilai mampu menghemat penggunaan air untuk penyiraman tanaman pertanian.

“Untuk pertanian lahan kering di Provinsi NTT memang cocok menggunakan sistem irigasi tetes, karena lebih hemat air dibandingkan menggunakan sprinkler,” sebut Yance Maring, petani milenial di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, saat dihubungi Cendana News, Senin (22/3/2021).

Yance menyebutkan, mayoritas wilayah NTT yang memiliki lahan kering dan hanya mengandalkan hujan untuk menyiram tanaman pertanian, perlu menggunakan irigasi tetes.

Menurutnya, petani hanya perlu mengebor air, lalu dialirkan ke atas bak penampung atau tandon yang diletakkan di tempat yang tinggi. Kemudian, airnya dialirkan ke lahan pertanian.

Petani di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, NTT, Yance Maring, menggunakan sistem irigasi tetes. –Dok: CDN

“Air akan langsung menetes melalui lubang-lubang di selang dan langsung ke dalam akar tanaman. Makanya, di bagian atas lahan dan bedeng yang ditanami tanaman hortikultura, tanahnya tidak terlihat basah, tapi kering,” ucapnya.

Yance menerangkan, bila menggunakan sprinkler, pompa air harus terus beroperasi saat sprinkler diaktifkan untuk menyiram tanaman, dan air akan membasahi lahan pertanian, termasuk tanamannya.

Dengan begitu, akan dibutuhkan banyak air untuk sekali penyiraman lahan pertanian, dan mesin pompa harus terus beroperasi selama proses penyiraman berlangsung.

“Kalau menggunakan sistem irigasi tetes, satu tandon air ukuran lima ribu liter bisa dipergunakan untuk sekali penyiraman tanaman seluas sekitar satu hektare. Mesin pompa hanya dipergunakan saat memompa air untuk dimasukkan ke dalam tandon atau bak penampung saja,” ucapnya.

Yance mengakui, untuk investasi sistem irigasi tetes memang membutuhkan modal besar, sekitar Rp30 juta, guna memasang instalasi pipa air irigasi tetes yang didatangkan langsung dari luar negeri. Dengan modal tersebut ditambah biaya produksi lainnya, untuk lahan satu hektare, petani butuh modal sebanyak kurang lebih Rp50 juta. Namun,  modal tersebut akan kembali dalam waktu satu musim tanam untuk tanaman hortikultura yang berumur 3-4 bulan.

“Misalnya kita tanam tomat dengan jumlah populasi empat ribu pohon dalam sehektare. Bila satu pohon menghasilkan 3 kilogram tomat,maka bisa panen 12 ton. Bila harga jualnya Rp5 ribu per kilogram,  maka sudah dapat uang Rp60 juta,” ucapnya.

Sementara itu,Direktur Wahana Tani Mandiri, Carolus Winfridus Keupung, menjelaskan penggunaan irigasi tetes memang cocok diterapkan di lahan kering. Namun khusus untuk lahan rata, dan tidak efektif diterapkan di lahan miring.

Win, sapaannya, menyebutkan mayoritas lahan kering di NTT berada di wilayah perbukitan dan di kemiringan, sehingga sistem ini sulit diterapkan. kecuali lahannya diratakan terlebih dahulu menggunakan alat berat seperti ekskavator hingga rata, baru bisa dipasang jaringan selang irigasi tetes.

“Memang butuh modal besar untuk menggunakan sistem irigasi tetes. Sehingga banyak petani yang kesulitan mengakses pinjaman modal lebih memilih bertani dengan sistem tradisional,” tuturnya.

Lihat juga...