Siswa SMK Yohanes XXIII Maumere Ujian Susulan di Sekolah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Para siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Yohanes XXIII Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang belum menjalankan ujian pertengahan semester mulai melaksanakan ujian di kelasnya.

“Siswa ini kesulitan manjalankan pembelajaran secara daring dan tidak mengikuti ujian pertengahan semester bulan Desember 2020 lalu,” sebut Kepala Sekolah SMK Yohanes XXIII Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Marselus Moa Ito, saat ditemui di sekolah, Kamis (4/3/2021).

Kepala Sekolah SMK Yohanes XXIII Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Marselus Moa Ito saat ditemui di sekolah, Kamis (4/3/2021). Foto: Ebed de Rosary

Dikatakan Marselus, setelah menjalani libur Natal dan Tahun Baru, pihaknya mulai mempersiapkan ruang kelas untuk menjalankan ujian susulan bagi para siswa yang belum mengikuti secara daring.

Ia menjelaskan, siswa tidak bisa mengikuti ujian dan pembelajaran secara daring sebab rumah tinggalnya di desa tidak ada listrik serta sinyal telepon seluler.

Selain itu tambahnya, orang tua siswa juga tidak mampu membeli telepon genggam dan pulsa data agar para siswa bisa melaksanakan pembelajaran secara daring atau online.

“Kami mulai melaksanakan ujian sejak tanggal 26 Februari lalu hingga Sabtu 6 Maret nanti. Setelah hari Senin, kegiatan pembelajaran tatap muka dilaksanakan di kelas secara terbatas dan sistem shift,” ucapnya.

Marselus menyebutkan, selama pembelajaran secara daring berlangsung para siswa yang tidak bisa mengikuti bisa datang ke sekolah mengambil soal dan mengerjakan di rumah.

Dia menjelaskan, setelah jawaban dikerjakan maka para siswa akan mengantarkan kembali ke sekolah dan mengambil lagi soal yang lainnya.

“Memang masih banyak siswa terutama karena rumahnya di desa selama tidak ada pembelajaran tatap muka mereka kembali ke rumah. Makanya mereka kesulitan belajar secara daring akibat tidak ada sinyal telepon genggam di wilayahnya,” terangnya.

Marselus berucap, bila mengikuti ujian susulan di sekolah terdapat jaringan internet gratis sehingga bisa memudahkan dalam melaksanakan pembelajaran.

Salah seorang wali murid, Yosef Juang saat ditemui di pasar tingkat Maumere mengakui, akibat pandemi Corona pihaknya kesulitan memenuhi aturan pembelajaran secara daring.

Yosef mengakui, memiliki 2 anak yang bersekolah di kelas 2 dan kelas 6 Sekolah Dasar (SD) serta seorang anak perempuan yang duduk di kelas 3 SMA di Kota Maumere.

“Kami tidak mampu membeli telepon genggam dan pulsa data bagi anak-anak sehingga kami datang ke sekolah dan mengambil soal yang diberikan untuk dikerjakan di rumah,” ungkapnya.

Yosef mengakui, hasil menjual ikan dari rumah ke rumah warga dengan berjalan kaki hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum anggota keluarga saban hari.

“Untuk bayar uang sekolah anak saya saja terkadang sering terlambat. Saat pandemi Corona seperti sekarang, penjualan ikan turun hingga setengahnya dan paling banyak sehari dapat untung Rp100 ribu,” ucapnya.

Lihat juga...