Skema ‘Closed Loop’ Dinilai Berhasil Perbaiki Ekosistem Pertanian Hulu-Hilir

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Tahun lalu, sektor pertanian merupakan satu dari lima sektor yang berhasil mencatatkan pertumbuhan positif yaitu 1,75 persen. Dan di antara beberapa komoditas pertanian, hortikultura menjadi komoditi paling besar pertumbuhannya, sebesar 4,17 persen.

Meski demikian, menurut Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian, Musdhalifah Machmud, mengatakan, komoditas hortikultura masih sering menghadapi persoalan mismatch antara produksi dan pemasaran. Hal ini terjadi karena adanya time lag yang cukup panjang antara waktu penanaman dengan saat produk dikonsumsi.

“Jarang sekali ditemui petani atau sekelompok petani dapat memenuhi secara persis apa yang diinginkan oleh pasar, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. Akibatnya, baik petani maupun konsumen sering menghadapi ketidakpastian pasokan dan harga,” ujar Musdhalifah dalam siaran pers yang diterima Cendana News, Senin (1/3/2021).

Menurut Musdhalifah, pemerintah memastikan akan terus mendukung berbagai inisiatif kolaboratif seperti inklusif closed loop yang melibatkan petani, koperasi, perbankan, hingga off taker.

“Pengembangan kemitraan closed loop hortikultura dimaksudkan untuk membangun ekosistem rantai pasok dan rantai nilai dari hulu sampai dengan hilir yang terintegrasi dan bersifat end to end model, dimana petani diajarkan budi daya sesuai good agricultural practices dengan memperhatikan pola tanam, pola panen, penanganan pasca panen hingga distribusi dan pemasaran untuk menghasilkan produk berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar,” jelasnya.

Dengan melihat keberhasilan Pemerintah Kabupaten Garut dalam pengembangan kemitraan closed loop untuk komoditas cabai yang telah dilaksanakan sejak tanggal 7 Oktober 2020, maka pemerintah ingin mereplikasi keberhasilan ini ke daerah lain.

“Pada tahap awal, pemerintah akan melakukan pengembangan komoditas hortikultura melalui pola kerja sama kemitraan dengan para petani dan para stakeholders, yang semuanya dikoordinasikan oleh Kemenko Perekonomian bersama Kementerian Pertanian sehingga proses bisnis hulu- hilir dapat berkelanjutan,” paparnya.

Musdhalifah melanjutkan, setelah nantinya menjadi program pengembangan kemitraan closed loop ini menjadi program prioritas nasional.

“Kemenko Perekonomian akan mengoordinasikan melalui integrasi kebijakan, untuk memfokuskan upaya meningkatkan program kemitraan petani dalam skala yang lebih besar, dalam lahan yang lebih luas dan melibatkan lebih banyak petani, sebagaimana arahan Bapak Presiden bahwa closed loop ini diharapkan mampu melibatkan 2 juta petani swadaya di tahun 2023,” pungkas Musdhalifah.

Lihat juga...