Soal Kebakaran, SOP Keselamatan di Kilang Pertamina Dipertanyakan

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Pengamat energi Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman menyatakan kebakaran yang terjadi di Refinery Unit (RU) VI Balongan atau Kilang Balongan, Indramayu Jawa Barat, menimbulkan kerugian bagi Pertamina dan korban jiwa. Tapi yang lebih terpengaruh adalah sistem kerjanya.

Akan menjadi pertanyaan besar pada Pertamina terkait Standar Operasional Prosedur (SOP) keselamatan dalam pelaksanaan kerja di kilang.

“Terlihat pihak manajemen agak kurang memperhatikan sistem kerja dan kualitas SDM di area luar, yakni area utilities dan area ITP yang mengurusi instalasi pipa dan tangki serta jetty dan SBM. Termasuk juga unit laboratorium agak diabaikan. Kelihatannya mereka hanya lebih fokus memperhatikan SDM di unit proses,” kata Yusri saat dihubungi Cendana News, Selasa (30/3/2021).

Ia menyatakan, terpantau adanya kasta di semua lingkungan kilang Pertamina.

“Kasta paling tinggi adalah orang yang mengendalikan unit proses, kasta kedua yang menangani unit utilities, kasta ketiga adalah yang menangani unit ITP, yakni instalasi pipa dan tangki serta Jetty dan SBM. Kasta yang paling rendah adalah yang keempat, yaitu yang menangani unit laboratorium di kilang,” paparnya.

Jika ini tidak segera dibenahi, tegasnya, persoalan yang sama atau lebih parah akan dapat terjadi lagi di kilang Balongan maupun kilang lainnya, khususnya di area di luar unit proses.

“Berdasarkan fakta yang beredar, telah terjadi kebocoran minyak diduga dari dari salah satu tangki, sehingga ada upaya pemindahan BBM secara gravity dari tangki yang bocor berisi penuh BBM ke tangki lainnya yang isinya belum penuh. Karena itu, dalam proses pemindahan BBM itu terdeteksi adanya ceceran minyak di sekitar area tangki pada hari Minggu (28/3). Ini tercium oleh warga sekitar tangki yang telah mendatangi pihak sekuriti Pertamina Balongan pada minggu malam,” ungkap Yusri.

Jika benar ada ceceran minyak dan ada angin, ia menyatakan soal pemantik kebakaran bisa saja bersumber dari mana saja.

“Bisa dari petir, bisa juga dari orang yang merokok di sekitar itu, bisa dari signal HP petugas ataupun dari gesekan electrik static di sekitar lokasi bocoran minyak,” tandasnya.

Untuk mengetahui dengan pasti, Yusri menyatakan hal yang mutlak dilakukan adalah membuka rekaman diruang kontrol kilang yang banyak menyimpan rekam jejak semua tentang 4 tangki yang terbakar itu.

“Termasuk tentunya data tentang proses pemeliharaan yang rutin dilakukan oleh tim HSSE (Health Safety, Security and Enviroment) apakah sudah bekerja sesuai SOP dan apakah ada catatan khusus terkait ke empat tangki itu sebelum terbakar, termasuk adanya kebocoran yang harus segera dilakukan perbaikan, namun terlambat dilakukan,” tuturnya.

Keterangan dari petugas yang bertanggung jawab terhadap area tangki itu juga sangat diperlukan untuk memperkuat data yang diperoleh dari ruang kontrol agar bisa memperkuat kesimpulan akhir faktor penyebab utama yang telah membuat keempat tangki BBM itu bisa terbakar hebat.

“Pada prinsipnya jika  selama proteksi safety terawat dengan baik dan standar prosedur HSSE dijalankan dengan benar dan ketat, dapat dipastikan semua fasilitas utama dan penunjang di area kilang aman terkendali,” pungkasnya.

Lihat juga...