Tekan Biaya Pupuk Membengkak, Manfaatkan Kotoran Sapi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JEMBER  – Penggunaan pupuk dari kotoran ternak sapi menjadi pilihan bagi petani. Tidak memerlukan biaya banyak untuk bisa mendapatkannya.

Salah satu petani di Jember mengaku, menggunakan kotoran ternak sapi sebagai pupuk. Hal itu juga sebagai cara untuk menekan biaya pengeluaran dalam pembelian pupuk non-subsidi.

Ilyas, salah satu petani menyatakan,  biaya pupuk yang mestinya dikeluarkan digunakan untuk  kebutuhan sawahnya yang semakin membengkak. Konsekuensinya, ia pun kemudian memanfaatkan kotoran ternak sapi milik tetangganya.

“Biaya pupuk yang dikeluarkan semakin meningkat, perlu cara lain untuk mencegah pengeluaran yang semakin besar. Cara alternatif yang saya gunakan dengan menggunakan kotoran ternak sapi,” ujar Ilyas kepada Cendana News, di Desa Tenggir, Kecamatan Jelbuk, Jember, Senin (8/3/2021).

Ia menambahkan, penggunaan kotoran ternak sapi sudah dilakukan cukup lama hampir sekitar 2 tahunan.

“Sudah sekitar 2 tahun saya menggunakan cara seperti itu. Penggunaannya sendiri ada waktu tertentu  seperti saat usia tanaman menginjak 1 bulan setengah,” ucapnya.

Penggunaan pupuk non-organik dirasa merugikan petani akibat biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Sedangkan untuk harga jual gabah saat panen masih cenderung murah.

“Penggunaan kotoran ternak sapi sebagai pupuk, sejatinya tidak begitu memberikan dampak yang baik untuk hasil pertumbuhan padi maupun hasil gabah yang didapatkan. Kotoran ternak sapi manfaatnya untuk kualitas tanah, sedangkan hasil dipengaruhi oleh pupuk non-organik,” ucapnya.

Ilyas menyebutkan, selama masa panen produksi gabah yang diperoleh tidak begitu banyak, namun masih bisa untung.

“Walaupun hasilnya tidak begitu banyak, bagi saya setidaknya nggak begitu rugi, sehingga setelah panen saya masih bisa menanam kembali. Modal dari hasil panen saya putar lagi sebagai modal pembibitan untuk selanjutnya,” ucapnya.

Sejauh ini, lahan sawah yang ada bukan milik Ilyas.

“Saya sewa ke orang lain selama 3 tahun dengan luas hampir 1 hektare. Mengawali sebagai seorang petani, saya memiliki cukup pengalaman. Seperti cara yang saya terapkan menggunakan kotoran ternak sapi, sudah saya ketahui sejak lama,” tegasnya.

Irfan, pemilik lahan sawah lainnya menyatakan, keluhan para petani hampir sama, yakni tentang harga pupuk yang mahal. Menurutnya, ketersediaan pupuk yang hampir langka dan mahal memang merugikan sebagian besar petani kecil.

“Pupuk mahal merugikan bagi kalangan petani kecil. Biaya yang dikeluarkan tidak sedikit, apalagi di musim penghujan disertai angin kencang. Menyebabkan membutuhkan perawatan intens terhadap tanaman padi. Apabila perawatan yang dilakukan ala kadarnya, berdampak pada pertumbuhan tanaman,” tegasnya.

Lihat juga...