TK Pembina Negeri Maumere Berlakukan PTM Tiga Kali Seminggu

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Sebanyak 56 murid TK Pembina Negeri Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapatkan bimbingan khusus sebanyak 3 kali dalam seminggu.

“Setiap anak kami wajibkan mendapatkan bimbingan 3 kali dalam seminggu,” kata Wilhelmina Wigu, Kepala Sekolah TK Pembina Negeri Maumere, Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui di sekolahnya, Kamis (18/3/2021).

Kepala Sekolah TK Pembina Negeri Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Wilhelmina Wigu saat ditemui di sekolahnya di Kota Maumere, Kamis (18/3/2021). Foto: Ebed de Rosary

Wilhelmina menyebutkan, setiap anak mempunyai hak 3 kali pertemuan dalam seminggu sehingga untuk mendapatkan bimbingan dari para guru.

Dia katakan, untuk mengatasi penularan Covid-19 pihak sekolah membagi setiap murid sebanyak 5 orang dalam setiap kelasnya untuk sekali pembelajaran tatap muka.

“Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dilaksanakan mulai jam 7 hingga jam 10 pagi dengan jeda waktu satu jam untuk istirahat. Terdapat 6 ruang kelas dengan masing-masing kelas berisi 5 sampai 6 orang,” ungkapnya

Wilhelmina menyebutkan, dari 6 orang guru di sekolah ini masih ada seorang guru yang berstatus tenaga kontrak termasuk tenaga administrasi dan cleaning service sekaligus penjaga sekolah.

Dirinya berharap agar tenaga kontrak yang ada di sekolahnya bisa diakomodir juga menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) atau mendapatkan tambahan penghasilan agar bisa sesuai Upah Minimum Regional (UMR).

“Kita berharap agar tenaga kontrak yang ada bisa mendapatkan penambahan penghasilan agar bisa sesuai UMR. Saat ini masih belum memadai dan di bawah UMR,” ucapnya.

Sementara itu, guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN), Katarina Siena, saat ditanyai mengakui, kelasnya terdapat 10 orang sehingga dibagi sehari 5 orang ikut pembelajaran tatap muka.

Katarina mengakui, meskipun telah dibatasi namun dalam sehari ada satu dua anak yang tidak mengikuti pembelajaran tatap muka di kelas.

“Selain melaksanakan belajar membaca dan menulis, anak-anak juga lebih banyak bermain sambil mengasah otak mereka. Para guru tetap memantau agar anak-anak tidak ada kontak erat satu sama lainnya,” ungkapnya.

Katarina mengakui, masih minimnya warga Kabupaten Sikka yang menyekolahkan anaknya ke TK Pembina Negeri yang bisa dikatakan menjadi sekolah model bagi sekolah sejenisnya.

Padahal kata dia, biaya sekolahnya gratis dan tempatnya sangat luas sesuai standar sekolah TK dengan fasilitas belajar dan permainan yang lengkap.

“Minat warga untuk menyekolahkan anak mereka di TK Pembina Negeri Maumere masih sangat minim. Padahal sekolah ini berkualitas dan memiliki fasilitas yang lengkap dalam menunjang proses belajar mengajar,” pungkasnya.

Lihat juga...