Usaha Penggilingan Padi di Desa Pinggirsari Semakin Surut

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANDUNG – Pada tahun 2000-an, usaha penggilingan padi di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung disebut sempat mengalami kejayaan. Saat itu, mayoritas petani setempat menanam padi, namun saat ini, seiring dengan semakin berkurangnya sumber air, petani lebih memilih bertani sayuran dibanding padi.

“Dulu rata-rata sawah di sini jarang ada yang tanam sayuran. Saya saja dalam seminggu bisa giling  sampai 1 ton. Sekarang karena sudah sedikit yang menanam padi, jadi penggilingan juga jarang dipakai,” ujar Agus, pengusaha penggilingan padi setempat kepada Cendana News, Selasa (9/3/2021).

Mesin penggilingan padi milik Agus, Warga Desa Pinggirsari, Arjasari, Kabupaten Bandung saat sedang beroperasi, Selasa (9/3/2021). Foto: Amar Faizal Haidar

Sedemikian berjayanya saat itu, menurut Agus, dalam sebulan ia bisa menghasilkan kurang lebih dari Rp5 juta dari usaha penggilingan padi. Terlebih, di Desa Pinggirsari sendiri hanya terdapat dua penggilingan saja.

“Sekarang boro-boro. Kadang sebulan juga paling cuma tiga orang yang giling padi. Itu pun gilingannya tidak banyak. Memang masalah utama pertanian sawah di sini itu air. Kalau airnya ada mah, mungkin pertanian padi bisa hidup lagi,” tukasnya.

Meskipun saat ini usaha penggilingan padi miliknya menurun, namun Agus yang sudah 20 tahun menjalankan usaha tersebut mengaku tidak memiliki keinginan menutup usahanya itu. Alih-alih menutup, ia justru menjajaki usaha lain, yaitu beternak ayam broiler.

“Iya meskipun sedikit-sedikit yang penting ada. Kan kasihan juga kalau ini ditutup, petani yang masih menanam padi jadi jauh kalau mau ngegiling. Jadi biarkan saja, sambil usaha yang lain,” paparnya.

Sementara itu, Kuraesin, salah seorang petani padi di Desa Pinggirsari juga berharap, penggilingan padi milik Agus tidak ditutup. Pasalnya, keberadaan usaha tersebut sangat dibutuhkan petani.

“Daripada jauh-jauh, ya kita berharap usaha penggilingan tetap ada. Karena selain jauh, kita juga malu, kalau ngegiling padi cuma sedikit. Makanya yang dekat jangan sampai tutuplah,” ujarnya.

Kuraesin tidak memungkiri, masalah ketersediaan air untuk mengairi ladang sawah menjadi persoalan serius bagi petani di Pinggirsari. Ia bersyukur, karena kebetulan, lahannya berada di bantaran kali, sehingga masih bisa mendapatkan air, meskipun sedikit.

“Lahan saya yang bisa ditanami padi tinggal sedikit, cuma yang di dekat kali. Itu pun kalau musim kemarau ya kekeringan juga. Tapi sedikit-sedikit tetap kita tanam, untuk kebutuhan rumah tangga saja. Lumayan jadi tidak perlu beli beras,” pungkas Kuraesin.

Lihat juga...