Usir Tikus Alamiah Gunakan Pestisida Ramah Lingkungan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Penanganan Organisme Pengganggu Hama Tanaman (OPHT) kerap memakai pestisida kimia sintetik. Namun sejumlah petani di Lampung Selatan menerapkan alternatif pestisida nabati salah satunya daun sirsak.

Sukoco, petani yang menerapkan ekstrak daun sirsak (Annona Muricata L) mengaplikasikannya untuk mengusir hama tikus.

Pestisida ramah lingkungan berbahan daun sirsak menjadi repellent. Sukoco bilang ia belajar secara otodidak dari internet dalam pembuatan repellent nabati.

Fungsi daun sirsak yang digunakan sebagai pengendali alternatif OPHT tikus tanpa membunuh. Aroma menyengat daun yang telah difermentasi sebutnya mengusir tikus dari areal persawahan.

Pestisida alami tersebut ungkap Sukoco cukup murah. Sebab warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan bisa mendapatkan bahan dari kebun.

Proses fermentasi dan ekstraksi dilakukan selama 24 jam memakai ember. Setelah dua hari daun sirsak diperas lalu diambil filtratnya sebagai repellent tikus. Aroma menyengat bisa ditambah dengan buah pace, brotowali.

“Pestisida nabati yang saya aplikasikan pada lahan sawah memiliki persentase keberhasilan sekitar 40 persen, sisanya saya gunakan pestisida kimia dalam upaya mengurangi hama tikus pada lahan sawah. Berimbas penurunan produksi akibat kerusakan tanaman padi sebelum berbulir hingga masa berbulir,” terang Sukoco saat ditemui Cendana News, Rabu (3/3/2021).

Pengaruh repellent tikus memakai daun sirsak sebutnya jadi alternatif bagi lahan tanaman padi. Pengaplikasian juga bisa diterapkan pada lahan tanaman jagung dan sayuran.

Pemakaian pestisida nabati tersebut diharapkan mengurangi penggunaan pestisida kimia. Sistem gropyokan untuk pengusiran tikus dan pemasangan pagar plastik juga diterapkan petani.

Pemasangan pagar plastik atau barrier trap dilakukan petani di Desa Bandanhurip, Kecamatan Palas. Pagar plastik disiapkan pada lahan sawah untuk memagar tanaman padi yang telah berbuah.

Petani melakukan penanaman padi yang digunakan sebagai pakan untuk tikus. Tikus yang akan memangsa padi akan terperangkap pada pagar plastik. Pada bagian dalam pagar diberi obat kimia tikus dan repellent dari daun sirsak.

“Kombinasi cara penanganan hama tikus bisa diterapkan petani untuk pengusiran dan meminimalisir hama pada lahan sawah,” cetusnya.

Penerapan pestisida nabati pada lahan pertanian diterapkan juga oleh Hartanto. Selain pemakaian daun sirsak ia memanfaatkan kulit jengkol.

Pemasangan cairan dan gumpalan fermentasi daun sisrsak pada tanaman padi oleh Hartanto, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Rabu (3/3/2021) – Foto: Henk Widi

Memiliki aroma yang menyengat kulit jengkol kerap dimanfaatkan untuk usir tikus. Teknik ramah lingkungan tersebut ungkapnya meski tidak 100 persen efektif namun bisa meminimalisir hama. Fermentasi kulit jengkol diterapkan memakai ember.

“Pada pemakaian secara tradisional kulit jengkol bisa ditempatkan pada sejumlah titik sawah,” bebernya.

Efektivitas pestisida nabati pada lahan pertanian sebutnya cukup membantu petani. Di tengah mahalnya harga obat kimia, pupuk kimia pemakaian pestisida ramah lingkungan bisa menghemat pengeluaran.

Memasuki padi usia 30 hari setelah tanam (HST) selain tikus OPHT jenis ulat daun, wereng bisa menyerang. Pemantauan secara langsung bisa dilakukan untuk menekan populasi hama.

Saiful, warga Desa Sidoluhur, Kecamatan Ketapang bilang ia kerap menghasilkan banyak kulit jengkol. Hasil pengupasan produk pertanian itu digunakan sebagai bahan pembuatan pestisida nabati.

Kulit jengkol dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pestisida nabati alternatif oleh Saiful, warga Desa Sidoluhur, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Rabu (3/3/2021) – Foto: Henk Widi

Ia kerap memberikan secara cuma-cuma kulit jengkol untuk mengatasi hama. Selain kulit jengkol dipadukan dengan daun sirsak, petani juga memanfaatkan botol plastik sebagai perangkap lalat buah.

Modifikasi dilakukan untuk perangkap lalat buah pada tanaman labu madu. Botol yang telah dilubangi akan diberi umpan buah, gula merah.

Tujuannya agar lalat jantan terperangkap. Saat lalat buah jantan terperangkap potensi populasi lalat bisa diminimalisir. Langkah tersebut digunakan untuk penanganan hama secara alami mengurangi bahan kimia.

Lihat juga...