Vaksin COVID-19 Buatan Vietnam Akan Tersedia di Kuartal Empat

Para buruh bekerja di jalur perakitan untuk memproduksi ventilator di tengah penyebaran penyakit virus korona (COVID-19), di pabrik Vsmart Vingroup diluar Hanoi, Vietnam, Senin (3/8/2020) – Foto Ant

HANOI – Vaksin COVID-19, yang dikembangkan di Vietnam untuk pertama kalinya, bernama Nanocovax, diperkirakan akan tersedia pada kuartal keempat tahun ini. Kementerian Kesehatan setempat menyebut, vaksin tersebut dapat digunakan di 2022.

Pengumuman itu datang, kala lebih banyak negara-negara berupaya untuk mempercepat pengembangan vaksin dalam negeri, di tengah pasokan global yang semakin ketat dan kekhawatiran, terkait munculnya varian-varian baru virus. “Pembendungan pandemi sangat bergantung pada pengembangan vaksin,” kata Kementerian Kesehatan Vietnam, dalam sebuah pernyataan.

Empat perusahaan asal Vietnam, telah terlibat dalam riset dan produksi vaksin. Dua telah menjalani tes terhadap manusia, termasuk vaksin Nanocovax dan Covivac. Sejauh ini, Vietnam telah bergantung pada vaksin AstraZeneca, dan sejak memulai vaksinasi pada 8 Maret lalu, lebih dari 20.000 orang telah diinokulasi. Seorang pejabat kementerian mengatakan, tak ada rencana untuk menghentikan penggunaan vaksin tersebut, usai sejumlah negara di Eropa menunda penyediaannya, terkait laporan penggumpalan darah.

Menteri Kesehatan Vietnam, Nguyen Thanh Long mengatakan, 1,3 juta dosis vaksin AstraZeneca akan tiba di Vietnam pada akhir Maret. Dan akan langsung didistribusikan di seluruh negeri.

Vietnam juga tengah berdiskusi terkait pembelian vaksin dari Pfizer-BioNTech, Moderna, Johnson & Johnson, dan pembuat vaksin Sputnik V Rusia. Menteri menambahkan, kesepakatan mungkin dapat dicapai untuk mengamankan 30 juta dosis vaksin Pfizer tahun ini.

Pemerintah setempat sebelumnya mengatakan, akan memperoleh total 150 juta dosis vaksin. Termasuk melalui pembelian langsung dari para produsen dan melalui skema berbagi vaksin COVAX.

Vietnam telah mendapatkan pujian global, terkait rekornya dalam menahan penyebaran virus dalam periode yang lama di tahun lalu, melalui tes massal, pelacakan, serta karantina yang ketat, meski akhir-akhir ini telah menghadapi lonjakan kembali dalam angka infeksi. Negara itu telah mencatat 2.560 kasus COVID-19, dengan sekitar 60 persen transmisi lokal. Hanya dilaporkan adanya 35 kematian akibat virus itu. (Ant)

Lihat juga...