Warga Penyangga Hutan Manfaatkan Hasil Non Kayu Sebagai Penghasilan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Produk hasil hutan non kayu yang dimanfaatkan sejumlah warga di dekat kawasan hutan sosial, hutan lindung mampu menopang perekonomian. Seperti yang dilakukan masyarakat di kaki Gunung Betung yang berada di Kabupaten Pesawaran dan Bandar Lampung.

Asnan, warga Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung menyebutkan, jenis bahan hasil hutan non kayu miliki prospek ekonomis berbasis konservasi. Seperti rotan, ijuk aren, alang alang dan bambu, dapat digunakan tanpa merusak lingkungan.

“Pada kawasan hutan Gunung Betung ada beberapa bagian yang tidak boleh diambil hasilnya, namun pada kawasan hutan sosial atau kemasyarakatan masih bisa dikelola dengan persyaratan khusus yang ditentukan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Lampung dan masyarakat desa penyangga hutan,” terang Asnan saat ditemui Cendana News, Rabu (17/3/2021).

Kontribusi hasil hutan non kayu sebutnya kerap tidak semaksimal hasil kayu. Namun dengan kearifan lokal sejumlah hasil bisa diperoleh dengan kreativitas.

Ia mencontohkan bambu ukuran tua yang dipanen sistem tebang pilih bisa memberi hasil lain. Hasil tersebut pada jenis bambu yang bisa dikonsumsi untuk sayur pada bagian rebung. Jenis bambu tamiang bahkan mulai dipakai untuk sedotan ramah lingkungan.

Asnan, warga Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung memanfaatkan bambu hasil hutan untuk pembuatan perabotan rumah tangga, Rabu (17/3/2021). Foto: Henk Widi

Pohon aren (Arenga pinnata Merr), selain diambil bagian ijuk, juga bisa disadap bagian air nira menjadi gula. Pemanfaatan ijuk dan nira menjadi gula akan memberi nilai tambah secara ekonomis.

“Edukasi dan kesadaran manfaat berkelanjutan hasil hutan non kayu justru didukung dengan penanaman kembali pohon yang sudah tidak produktif,” bebernya.

Sumarjo, warga setempat memilih mengolah air nira aren. Sistem perbanyakan tanaman secara generatif membantu perbanyakan tanaman. Kelestarian tanaman aren sebutnya sekaligus jadi sumber penghasilan.

“Selama pohon tidak ditebang untuk diambil sagunya kami masih bisa membuat gula aren, mendapat hasil kolang kaling,” cetusnya.

Pemanfaatan hasil tanaman produktif dan pendukung konservasi juga dilakukan warga Lampung Timur. Sukini, petani di sekitar kawasan penyangga Gunung Balak, Desa Girimulyo, Kecamatan Marga Sekampung mengaku memaksimalkan tanaman pala. Tanaman produktif itu selain ditanam sebagai penahan longsor, rehabilitasi lahan juga mampu beri hasil maksimal.

Hasil produksi pada kawasan hutan non kayu diperoleh masyarakat tanpa merusak. Sebagian kawasan Gunung Balak sebutnya mulai direhabilitasi dengan tanaman produktif. Langkah itu bekerjasama dengan Dinas Kehutanan agar perambahan hutan bisa dicegah.

Lihat juga...