Wisata Sejarah Dusun Purbasari Pengalengan Masih Misteri

Editor: Koko Triarko

BANDUNG – Dusun Purbasari, Pengalengan, Kabupaten Bandung, mungkin belum terlalu dikenal oleh penikmat wisata dari luar daerah. Namun bagi petualang sejarah dan misteri, Dusun Purbasari dikenal memiliki dua lokasi destinasi, yaitu Rumah Belanda Purbasari dan Pohon Gordah.

Kepala Dusun Purbasari, Cecep, menyebutkan sudah banyak peneliti yang datang melakukan penelitian pada Pohon Gordah, tapi belum ada hasil penelitian yang menyebutkan nama ilmiah dari pohon tersebut.

“Kalau rumah itu, dulu bekas dari meneer Belanda yang melakukan pengelolaan di perkebunan teh. Sekarang, sering kita gunakan kalau ada mahasiswa yang KKN. Ada juga kepala unit perkebunan yang tinggal sementara di sana,” kata Cecep, saat berkeliling di Dusun Purbasari, Minggu (7/3/2021).

Kepala Dusun Purbasari, Cecep, dan Linmas Desa Wanasuka, Asep, saat menjelaskan Rumah Belanda Purbasari, Minggu (6/3/2021). -Foto: Ranny Supusepa

Ia menyebutkan, bangunan rumah tersebut sudah ada sejak 1800an.  “Tidak ada yang diubah sejak dulu. Hanya memang ada beberapa kerusakan akibat gempa beberapa waktu lalu. Tapi, bisa dibilang 80 persen masih dipertahankan seperti dulu,” katanya, seraya menunjukkan perapian model dulu yang tidak mengalami perubahan bentuk, hanya dilakukan pengecatan saja.

Ada satu yang berubah, lanjutnya, yaitu penutupan ruang bawah tanah yang ada di salah satu bagian rumah.

“Ada dua versi terkait lorong tersebut. Pertama, katanya itu lorong untuk melarikan diri atau untuk bersembunyi. Karena daerah ini kan terimbas juga saat Jepang masuk ke Indonesia. Cerita kedua, katanya itu ruang bawah tanah untuk menyimpan harta kekayaan. Tidak tahu mana yang benar. Hanya kita putuskan untuk ditutup, karena takut ada apa-apa,” ujarnya, dengan logat Sunda yang khas.

Para petualang mistis yang datang berkunjung, lanjutnya, biasanya untuk memastikan cerita tentang nyonya Belanda dan pembantunya yang suka terlihat di jendela rumah.

“Selain itu, juga untuk melihat pohon Gordah, yang juga dipercayai masyarakat sini sebagai pohon yang memiliki penunggu. Sampai-sampai, masyarakat sini tidak mau untuk mematahkan dahannya. Paling kalau ambil, hanya dahan yang jatuh di bawah pohon saja,” ucap Cecep.

Linmas Desa Wanasuka, Asep, menjelaskan, menurut cerita turun temurun, dulu ada dua pohon Gordah yang seakan-akan menjadi gerbang masuk dusun.

“Tapi, sekarang cuma tinggal satu saja. Kalau menurut cerita yang berkembang di masyarakat, pohon yang satu pindah ke Saudi. Dulu ada bangunan di belakang pohon ini. Tapi, karena tak terurus, akhirnya hancur,” katanya, saat menunjukkan lokasi pohon Gordah, di tengah-tengah perkebunan teh.

Ia menyebutkan, pohon Gordah ini serupa dengan Cemara. Tapi, bukan termasuk keluarga Cemara.

“Dari batang pohonnya keluar getah. Yang kalau kita bakar akan menyala dan mengeluarkan wangi kemenyan. Sudah banyak peneliti yang datang, tapi belum satu pun yang bisa menyatakan ini pohon jenis apa,” tuturnya.

Saat ini, menurutnya para wisatawan yang datang sering untuk menikmati keindahan alam dan kesegaran udara Dusun Purbasari.

“Tapi, kalau mau menginap juga bisa. Tinggal mengajukan izin ke pemda dan PTPN saja. Jadi, kalau mau meneliti pohon Gordah atau eksplore rumah Belanda, ya kita mah mengizinkan saja,” pungkasnya.

Lihat juga...