Lebaran CDN

Bangkok Berupaya Dapatkan Lebih Banyak Vaksin COVID-19

BANGKOK — Thailand sedang mencoba untuk mendapatkan 35 juta dosis vaksin COVID-19 dari dua atau tiga perusahaan tahun ini, selain pesanan yang telah ada untuk sekitar 65 juta dosis, kata Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha pada Rabu.

Dorongan pemerintah untuk mendapatkan lebih banyak vaksin dilakukan di tengah meningkatnya frustrasi publik tentang peluncuran vaksin yang lambat, dengan hanya 604.947 orang yang diinokulasi sejauh ini, atau kurang dari 1 persen populasi Thailand.

Dari vaksin baru yang dicari, sektor swasta akan membantu menyediakan 10 hingga 15 juta dosis, kata Prayuth dalam sebuah unggahan Facebook.

“Saya telah memerintahkan agar kami mendistribusikan dan mengelola semua vaksin yang dapat kami temukan paling lambat Desember,” ujar dia, menambahkan.

Prayuth tidak menyebutkan merek vaksin tersebut, atau merinci apakah 35 juta dosis yang dimaksud termasuk 5 hingga 10 juta dosis vaksin Pfizer dan BioNTech yang dia umumkan sedang diupayakan pada Selasa (20/4).

Setelah sukses awal dalam menahan COVID-19, Thailand sedang melawan gelombang baru virus corona yang mencakup varian B.1.1.7 yang sangat mudah menular.

Wabah baru telah menyebabkan lebih dari sepertiga dari 46.643 kasus di Thailand, dengan 110 di antaranya meninggal dunia. Negara itu melaporkan 1.458 infeksi baru dan dua kematian pada Rabu.

Rencana vaksinasi masal dipusatkan pada 61 juta dosis vaksin AstraZeneca buatan lokal, dan putaran pertama dijadwalkan pada bulan Juni.

Untuk inokulasi awal, Thailand telah menerima 2 juta dosis vaksin Sinovac Biotech dan telah memesan 1,5 juta dosis lagi, dengan 500.000 dosis akan tiba pada Sabtu (24/4) dan sisanya bulan depan. Thailand juga telah mengimpor 117.000 dosis vaksin AstraZeneca.

Pakar kesehatan mempertanyakan keputusan pemerintah untuk tidak menggunakan fasilitas berbagi vaksin internasional COVAX, yang telah menyediakan vaksin ke 100 negara termasuk Filipina, Vietnam, dan Korea Selatan.

“Kita melewatkan kesempatan dengan tidak bergabung dengan COVAX,” kata kepala Pusat Penyakit Menular Palang Merah Thailand Thiravat Hemachudha.

Namun, pemerintah berpendapat bergabungnya Thailand dengan COVAX berisiko meningkatkan biaya dan waktu pengiriman yang tidak pasti. [Ant]

Lihat juga...