Lebaran CDN

Belajar Mengenal Daur Hidup Lebah Apis Mellifera

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Faeyza (7) sangat antusias mendengarkan penjelasan tentang daur hidup lebah yang disampaikan oleh Nurdianto, staf Diklat dan edukasi PT Madu Pramuka.

“Ini lebah jenis Apis Mellifera, yang merupakan lebah asli Australia dan paling banyak dibudidayakan di Indonesia,” ujar Nurdianto, saat menjelaskan daur hidup lebah di Taman Wisata Lebah Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (29/4/2021).

Lebah Australia ini jelas dia, lebih mudah dibudidayakan ketimpang lebah lokal. “Lebah ini tidak agresif dan mampu menghasilkan madu yang lebih banyak,” ujarnya.

“Kalau madunya bisa dimakan langsung nggak?,” tanya Faeyza kepada Nurdianto. “Oh..bisa, kalau mau coba madunya, boleh,” jawab Nurdianto.

Nurdianto pun mengambil pisau kecil, lalu pisau itu dipakai untuk mengambil gumpalan madu yang ada di atas kotak kayu berisi ratusan lebah.

“Ini madunya, coba saja, enak kok,” kata Nuryanto. Faeyza pun mencicipinnya.

“Iya, enak, manis,” ujarnya.

Lebih lanjut, Nurdiyanto menjelaskan, lebah Apis Mellifera ini badannya lebih besar kalau dibandingkan dengan lebah lokal. Sehingga hasil madunya akan lebih banyak dan lebih cepat.

Lebah ini juga tidak menyengat, lebih jinak dibandingkan lebah lokal. Bisa dipegang tanpa pengaman. Sedangkan kalau lebah lokal, itu ukuran badannya lebih kecil, sehingga mudah masuk ke dalam lubang telinga dan sangat berbahaya.

Dia kemudian mengangkat sebuah honeycomb atau sarang lebah dan memperlihatkan lebah-lebah budidaya.

“Lebah-lebah ini tidak menggigit. Kamu bisa menyentuh mereka tanpa takut. Kalau mau pegang kotaknya, boleh kok. Lebah ini tidak menyengat dan jinak, jadi aman kalau mau pegang,” kata Nurdianto.

Faeyza pun memberanikan memegang kotak berisi ratusan lebah itu dengan kedua tangannya. “Iya, lebahnya anteng,” ujarnya.

 Nurdianto, staf Diklat dan edukasi PT Madu Pramuka, sedang menjelaskan daur hidup lebah kepada pengunjung di Taman Wisata Lebah Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (29/4/2021). Foto: Sri Sugiarti.

Nurdianto menjelaskan lagi, begitu juga dengan lebah sang ratu tidak mengigit. Bahkan sang ratu ketimbang ketakutan pada manusia saat kotak itu dipegang, justru anteng seolah sedang memberikan supervisi para pekerjanya.

Berlanjut dia menjelaskan, tentang lebah ini. Yakni terkait seberapa lama lebah bisa hidup. Dan apa saja jenis madu yang bisa dihasilkan oleh lebah, serta bagaimana cara merawat lebah.

Hingga tentang apa lawan terbesar koloni lebah Australia ini. Sehingga lebah ini tidak akan terganggu dan tetap dapat produksi dengan baik.

Dia juga menjelaskan, tentang propolis dan mengapa warnanya hitam tidak seperti madu yang berwarna kuning cerah.

Dikatakan dia, propolis adalah lem yang dikumpulkan lebah dari beragam getah pohon untuk menutupi lubang yang ada di sekitar sarangnya.

Setelah menjelaskan seputar daur ulang lebah, Nurdianto pun memperlihatkan cara memisahkan madu dari honeycomb. Tangan dia pun mengangkat sebuah honeycomb siap panen.

Kemudian meletakkannya ke sebuah mesin ekstraktor manual berbentuk tabung yang memiliki pengayuh pada bagian luar yang berfungsi untuk memutar mesin.

Sehingga madu akan terkibas, lepas dari sarangnya. Madu yang telah terlepas nantinya akan mengalir dari dinding tabung menuju penampang di bagian bawah.

Sehingga bisa menikmati madu asli, langsung dari sarangnya, tanpa butuh waktu lama. “Madunya, tetap dalam kondisi yang bagus, karena tidak terkena hawa panas,” ujarnya.

Ketika akan mengonsumsi madu, dia menyarankan, jangan menggunakan air panas. Ini bertujuan agar tidak merusak kandungan nutrisi yang terdapat dalam madu tersebut.

Maka dari itu, kata dia, cara terbaik mengonsumsi madu adalah dengan air hangat. Dan meskipun hendak diminum hangat disarankan air hangatnya suam-suam kuku agar kandungannya tidak rusak.

Di area taman ini, terlihat pepohonan yang rindang dan berbagai jenis tanaman bunga berwarna cerah. Rupanya, pepohonan dan bunga-bunga itu bukan hanya sengaja ditanam memperindah taman saja. Namun juga menjadi sumber makanan bagi lebah Apis Mellifera.

Sehingga dikatakan dia, persediaan makanan dikumpulkan dalam sarang lebah yang nantinya akan diolah menjadi madu.

Namun demikian, kata dia lagi, bukan berarti lebah-lebahnya dibiarkan saja berlalu lalang beraktivitas bebas di tengah pengunjung yang berwisata di taman ini.

Tapi lebah-lebah yang dibudidayakan di taman ini, disimpan dalam kotak dan tempat yang terpisah sesuai dengan spesiesnya.

“Setiap kotak memiliki satu ekor ratu, yang nantinya akan menghasilkan lebah-lebah pekerja, dan pejantan,” ujarnya.

Hardiansyah, seorang pengunjung mengatakan, di taman ini bisa belajar banyak hal terkait lebah, madu, dan produk olahan lainnya yang bisa didapatkan dari lebah.

“Taman ini merupakan taman edukasi tentang lebah, yang sangat penting bagi orang tua, terkhusus bagi anak-anak. Mereka jadi dapat ilmu tentang daur hidup hewan lebah yang belum tentu didapatkan dari sekolah,” ujar Hardiansyah, yang merupakan orangtua dari Faeyza.

Lihat juga...