Lebaran CDN

BMX, Olahraga Ekstrem yang Kian Diminati di Kota Malang

Editor: Makmun Hidayat

MALANG — BMX merupakan salah satu cabang olahraga sepeda yang mulai banyak diminati. Meskipun termasuk olahraga ekstrem, nyatanya banyak anak-anak hingga usia remaja yang justru menekuni olahraga BMX. 

Pelatih BMX tim XBC sekaligus pelatih Puslacab Kota Malang, Reza Kristanto, mengatakan perkembangan olahraga BMX di Malang saat ini cukup menggembirakan, bahkan sudah mulai muncul bibit-bibit baru untuk regenerasi atlet BMX.

“Dibandingkan zaman saya dulu, memang lebih banyak sekarang. Karena dulu jarak antara generasi ke generasi berikutnya sempat tertinggal jauh dan regenerasinya memang kurang. Tapi sekarang sudah mulai kita bibit lagi dan jumlahnya sudah banyak,” terangnya kepada Cendana News, ditemui di Velodrome, Jumat (16/4/2011).

Kalau semua ikut latihan, lanjutnya, biasanya ada 30 anak dari kota Malang. Kalau ditambah dengan anak-anak yang dari Puslacab totalnya ada 40 orang, “Kalau di tim XBC usianya paling kecil 5 tahun dan paling besar 14 tahun,” imbuhnya.

Lebih lanjut disampaikan Reza, agar regenerasi bisa berjalan dengan baik, tidak hanya atletnya saja yang perlu diberikan edukasi, tetapi juga orangtua atlet. Karena terkadang orangtua ini yang justru terlalu ambisi dan kurang sabar melihat perkembangan anak.

“Rata-rata orangtuanya terlalu ambisi, kadang sudah satu bulan latihan tapi kok anaknya belum ada kemajuan, padahal sudah dibelikan sepeda yang mahal. Karena orangtuanya tidak sabar, akhirnya anak-anak banyak yang ngambek dan tidak mau berlatih lagi,” terangnya.

Menurut Reza, kemajuan anak sebenarnya bisa dilihat dari beberapa aspek. Karenanya ia sebagai pelatih harus melihat karakter setiap anak, karena pasti akan berbeda. Ada anak yang berani, ada yang tidak berani. Di sini biasanya orangtua tidak sabar menunggu perkembangan anaknya. Inginnya anaknya cepat bisa agar selalu menang. Padahal dalam peraturan olahraga, usia dini itu cuma bibit awal dan hanya dilatih untuk latihan program saja.

“Jadi latihannya hanya bersenang-senang. Kita bikin senang dulu mereka. kalau sudah senang, dilatih apapun dia tidak mungkin kapok. Ini yang kami ajarkan kepada mereka,” tuturnya.

Kalau sudah usia di atas 17 tahu, baru bisa ditarget untuk juara. Kalau masih kecil, juara itu bonus. “Jadi sebagai orangtua tidak boleh terlalu ambisi,” tandasnya.

Sebab itu, terkadang setiap seminggu atau dua minggu sekali dijadwalkan untuk bertemu orangtua. Selain sharing berbagai hal, pada saat pertemuan itu disampaikan juga perkembangan anak-anak mereka.

Lebih dalam disampaikan Reza, fungsi olahraga BMX bagi anak-anak adalah untuk melatih syaraf motorik mereka, fisik, keberanian, mental bertanding dan yang utama adalah menghindarkan mereka dari pergaulan yang tidak benar.

Selain itu juga melatih anak untuk berpikir cepat, karena di BMX berpikirnya harus cepat sebab panjang lintasan hanya 400 meter saja, sehingga mereka harus berpikir cepat supaya tidak terjadi kesalahan.

“Respons harus cepat dan melatih konsentrasi untuk menghindari kontak fisik dengan lawan,” sebutnya.

Sementara itu salah satu atlet BMX binaan Reza, Vaza Aisyah Rahma (9) sudah menekuni olahraga BMX sejak usia lima tahun. Menurutnya selain seru, olahraga BMX juga mampu mengasah keberaniannya. Bahkan dikatakan Vaza diawal-awal bertanding BMX ia sempat mengalami kecelakaan tapi tidak membuatnya trauma.

“Setelah sempat kecelakaan justru semakin penasaran dan semangat untuk terus berlatih agar bisa meraih prestasi,” pungkasnya.

Lihat juga...