Buah-Buahan Indonesia Diminati Pasar Luar Negeri

Editor: Mahadeva

Sekretaris Kemenko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, saat menghadiri kegiatan penanaman perdana pengembangan komoditas hortikultura, di Kabupaten Ponorogo, Sabtu (3/4/2021) - Foto Ist/Amar Haidar

JAKARTA – Buah-buahan Indonesia, sangat diminati pasar luar negeri. Hal tersebut yang mendorong Kementerian Perekonomian, terus menggenjot kinerja ekspor komoditas hortikultura tersebut.

“Selama masa pandemi COVID-19, di 2020 terdapat 389,9 juta USD nilai realisasi ekspor buah-buahan segar dan olahan. Lebih detail, ekspor buah-buahan segar saja di 2020 sebesar 96,3 juta USD, meningkat sebesar 30,31 persen dibanding 2019,” ungkap Sekretaris Kemenko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, usai penanaman perdana pengembangan komoditas hortikultura, di Kabupaten Ponorogo, Sabtu (3/4/2021).

Dari total ekspor buah-buahan segar dan olahan di 2020, ekspor produk olahan nanas memberikan kontribusi terbesar dibanding buah segar dan olahan lainnya. Nilainya mencapai 70,30 persen.

Sedangkan untuk ekspor buah-bahan segar, ekspor pisang memberikan kontribusi sebesar enam persen, terhadap total ekspor buah-buahan segar. “Terdapat lima negara tujuan utama ekspor utama produk buah-buahan Indonesia, yaitu RRC, Hongkong, Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Pakistan,” jelas Susiwijono.

Kemenko Perekonomian disebutnya, telah melakukan inisiasi dan kerja sama kemitraan, dengan pemerintah daerah Kabupaten Ponorogo, melalui penanaman perdana pengembangan komoditas hortikultura.

Sebelumnya, hal yang sama dilaksanakan di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh pada 18 Februari 2020 yang lalu. “Sesuai dengan arahan Bapak Menko, inisiasi dan kerja sama kemitraan ini dilakukan sebagai langkah untuk meningkatkan pemerataan ekonomi di daerah dan meningkatkan ketersediaan sumber pangan yang berkualitas. Ini akan menjadi role model manajemen agribisnis yang lebih baik melalui kemitraan dengan pelaku usaha yang sudah memiliki kompetensi untuk ekspor,” tandas Susiwijono.

\Deputi Bidang Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian, Musdhlifah Machmud mengatakan, masih terdapat masalah dan tantangan, dalam pengembangan tanaman hortikultura di Indonesia. Seperti lemahnya Sumber Daya Manusia (SDM) dan kelembagaan petani, terbatasnya modal.

Kurangnya pendampingan dan inovasi teknologi, serta rendahnya daya saing dan kurangnya akses pasar. “Oleh karena itu, kerja sama kemitraan dengan petani perlu didorong, agar petani dapat terbantu dalam merancang pola produksi hingga pemasaran sehingga petani menjadi mandiri dan tangguh,” tukas Musdhalifah.

Sebagai program prioritas, Kemenko Perekonomian akan mengkoordinasikan melalui integrasi kebijakan. Mulai dari penyediaan lahan melalui optimalisasi kebijakan pemanfaatan lahan Perhutanan Sosial, peningkatan produksi, mutu dan daya saing produk, dan peningkatan akses pembiayaan petani melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Selain itu, peningkatan akses pasar melalui e-commerce, dukungan logistik, pembangunan sarana prasarana atau infrastruktur transportasi, serta dukungan kebijakan tarif dan perdagangan internasional juga menjadi prioritas yang dilakukan Kemenko Perekonomian,” papar Musdhalifah.

Hingga saat ini, pengembangan kawasan hortikultura berorientasi ekspor telah dilakukan di lima, Kabupaten Tanggamus-Lampung, Kabupaten Jembrana-Bali, Kabupaten Bener Meriah-Aceh. Sementara di Provinsi Jawa Timur antara lain Blitar dan Bondowoso, kemudian Ponorogo.

Lihat juga...