Lebaran CDN

Budayawan: Perlu Adanya Kampung Tematik di Bekasi untuk Jaga Kearifan Lokal

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Aki Maja Budayawan Bekasi. Foto: Muhammad Amin

BEKASI — Budayawan Bekasi, Jawa Barat, Maja Yusirwan kembali menggulirkan pembentukan Kampung Tematik dalam rangka menjaga dan memberdayakan kearifan lokal di wilayah setempat.

Kampung tematik jelasnya bisa menjadi daya tarik wisata baru di Kota Bekasi dengan menggali potensi di kampung-kampung pada setiap kecamatan dan kelurahan untuk di jadikan daya tarik tersendiri menjadi potensi wisata lokal di wilayah Kota Patriot.

Wilayah Bekasi kaya dengan tradisi yang kalau diolah dengan baik, serius, akan tumbuh jadi tujuan wisata lokal, bisa mungkin tujuan wisata nasional. Bahkan di beberapa kampung, tingkat RT/RW ada yang bergiat dibidang seni, bisa dijadikan kampung seni.

“Mungkin bisa belajar dari Kota Malang, Banyuwangi, Bogor dan lainnya,” sebutnya kepada Cendana News, Minggu (18/4/2021).

Semua tentunya pada awalnya tidak pernah tahu bahwa Belitong di Pulau Babel menjadi sangat terkenal setelah diekpose dalam film Laskar Pelangi. Dia berharap beberapa tahun kemudian bisa saja Kampung Budaya Kranggan, Situ Rawa Gede, Curug Parigi dan lainnya menjadi tujuan wisata para pelancong dari dalam maupun luar negeri?

“Tugas beratnya adalah bagaimana memoles dan bikin packaging yang ngejual dan eyecatching”, tukas Aki Maja mengakhiri.

Mewujudkan hal tersebut, ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan oleh pihak terkait, seperti membuat desain, mapping, menganalisa tingkat kesiapan pengembangan kampung tematik di setiap wilayah.

Disebutkan, Kota Bekasi punya banyak lokal genus dan lokus yang bisa diolah, didesain atau direkacipta jadi kawasan wisata.

Misalkan Kampung Kranggan jadi sampel yang paling nyata dan bisa diolah, ada lagi kampung Bali di Bekasi Utara, Kampung Persaudaraan di Kampung Sawah, Kampung Buah Langka di Pondok Melati, Kampung Jawara Silat di Jatiasih, Kampung Santri di Pedurenan Jati luhur, Kampung Batik, Kampung Sampah, Kampung UMKM dan lainnya,”ucap dia.

“Analisa kuantitatif yang digunakan di 12 kecamatan yang terdiri dari 56 kelurahan dan ratusan kampung se-Kota Bekasi,” ungkap Aki Maja.

Menurutnya ada lima aspek dalam menilai kampung tematik mulai dari daya tarik wisata, kedua ketersediaan sarana dan prasarana, kemduian kelembagaan internal, selanjutnya kondisi masyarakat, terkahir kelembagaan eksternal.

Setiap aspek tentunya memiliki beberapa kriteria berdasar hasil observasi kondisi eksisting dan data/informasi hasil wawancara/kuesioner kepada pengelola kampung tematik. Penilaian kriteria tersebut dilakukan dengan menggunakan teknik skoring likert (skala 1 – 5).

Maka setelah ada hasil penilaian dari seluruh kriteria dalam satu aspek kemudian dirata-rata untuk memperoleh nilai dari aspek yang bersangkutan. Input data analisa yang diperoleh dari 2 arah tersebut (peneliti dan pengelola kampung) diharapkan dapat mengurangi subyektifitas penilaian terhadap kesiapan pengembangan kampung tematik yang ada di Kota Bekasi ini.

Dalam pemberdayaan potensi lokal tersebut ia mengajak seperti pelaku UMKM, Karang Taruna, LSM, Komunitas dan stakeholder lainnya untuk memulai.

“Menunggu kebijakan pemerintah melalui pemimpin yang memiliki political will serta sense of belonging terhadap tradisi, adat, seni dan budaya emang rada susah, kudu digedor baru pada open,”ucapnya dalam bahasa Betawi.

Padahal kampung tematik dapat dibuat dengan pola etnis, suku atau berdasar pada kearifan lokal. Sebagai landasan bekerja kita dapat merujuk pada regulasi misalnya, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah menegaskan bahwa salah satu aspek yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah adalah penanggulangan kemiskinan yang masuk dalam urusan bidang sosial, sub bidang perlindungan dan jaminan sosial.

Lebih lanjut disampaikan bahwa mayoritas kampung tematik dibentuk dengan pertimbangan adanya produk unggulan yang dapat dijadikan sebagai komoditas. Ini bisa dijadikan kampung binaan dinas sosial ataupun instansi yang mengurusi UMKM. Mengentaskan masalah sosial diantaranya, kemiskinan dan kesejahteraan.

Melakukan ini tentu tidak mudah namun dapat dilakukan, dalam kegiatan desain dan kebijakan tentunya butuh aktor, dalam pengertian orang yang mau bergerak melakukan, bisa pejabat pemerintah atau seniman, budayawan, pegiat, komunitas, yang dibiayai dari APBD, CSR ataupun dana hibah.

Aki Maja yang saat ini dipercaya sebagai Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Melayu Betawi (LKMB) Provinsi Jawa Barat memberi contoh Bantar Gebang, Kelurahan Sumur Batu memiliki kawasan yang dapat menggunakan sampah serta barang bekas pakai di daur ulang, re-use, dan bernilai ekonomi.

Bahkan kelompok tani ikan, ternak unggas, petani sayuran di Mustika Jaya, bisa memulai secara mandiri, dan kelompok membentuk kampung sesuai ketersediaan benda yang siap dijual, dipromosikan.

“Bukankah Bekasi punya jargon smart city, jangan cuman kotanya yang cerdas, tapi jadikan juga smart society, penduduknya cerdas,” tandasnya meminta Pemkot Bekasi segera mewujudkan Kampung Tematik dengan membuat regulasi, perwal/perda supaya legalitasnya jelas dan kuat.

Lihat juga...