Lebaran CDN

Budi Daya Burung Kacer Mudah dan Menguntungkan

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Selain sukses mengembangkan usaha ikan kerapu hias, Isna Susanta (36),warga dusun Monggangan, Kadirojo, Palbapang, Bantul, juga terbilang berhasil membudidayakan burung berkicau jenis Kacer.

Menurut Isna Susanta, proses budi daya atau penangkaran burung bernama lain Kucica Kampung ini tidak jauh berbeda dengan burung berkicau lainnya.  Salah satu hal yang wajib dipersiapkan tentu saja adalah kandang.

“Saya menggunakan kandang polier berukuran 1 x 1,5 dan tinggi 2,5 meter. Kandang sebaiknya dibuat rapat agar tidak ada hama dan gangguan dari luar. Di dalamnya diberikan glodok kayu sebagai tempat bersarang, tangkringan serta wadah untuk pakan dan minum,” ujar lelaki 36 tahun yang sudah berhasil menangkarkan burung Kacer sejak 2014 silam.

Isna menyebut, langkah pertama yang harus dilakukan untuk menangkarkan burung Kacer adalah proses perjodohan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menempatkan burung jantan dan betina di kandang kecil terpisah. Lalu, menjejerkannya satu sama lain selama sekitar dua hari.

“Kalau burung terpantau sudah tidur berdekatan, bisa dicampur. Ada baiknya saat pencampuran burung disemprot air agar tidak tarung. Biarkan dulu di kandang kecil selama seminggu sampai benar-benar jodoh. Baru setelah itu bisa dimasukkan dalam kandang polier,” jelasnya.

Ada satu tips untuk mengatasi agar saat proses pencampuran burung tidak tarung satu sama lain. Yakni, dengan cara mengurangi jumlah pakan.

“Proses perjodohan ini termasuk yang paling sulit. Karena jika sampai tarung, salah satu burung bisa mati,” ungkapnya.

Setelah berada di kandang polier, burung kacer biasanya akan mulai bersarang dan bertelur. Satu pasang burung Kacer rata-rata bisa menghasilkan 3 ekor telur setiap bersarang. Proses pengeraman sendiri berlangsung selama 14 hari hingga anakan menetas.

“Setelah menetas, biasanya anakan akan saya biarkan diloloh (disuap) indukan sampai berusia 7-9 hari, baru setelah itu saya ambil untuk kemudian diloloh menggunakan tangan. Dengan begitu, dalam waktu kurang lebih seminggu setelahnya, indukan sudah bisa mulai kawin lagi,” katanya.

Menurut lelaki yang termasuk salah satu pionir pembudidaya burung Kacer di Yogyakarta ini, komposisi pemberian pakan akan sangat menentukan keberhasilan proses penangkaran burung berwarna dominan hitam dan putih ini. Setiap masa, mulai dari saat perjodohan hingga kawin, mengeram hingga meloloh anakan, memiliki komposisi pakan yang berbeda.

“Biasanya untuk harian hanya saya beri pakan jangkrik saja. Saat kawin, saya beri jangkrik dan ulat hongkong, lalu saat mengeram saya beri jangkrik. Sedangkan saat meloloh anakan saya beri jangkrik serta ulat kandang. Jadi, saya tidak menggunakan kroto sama sekali,” ungkap Topik, yang pernah sampai memiliki 9 pasang Kacer jenis Poci dan Wulung ini.

Lebih lanjut dijelaskan, saat sudah berusia 1 bulan, anakan bisa langsung dijual. Satu ekor anakan Kacer poci jantan trotol laku dijual Rp450ribu. Sementara untuk anakan Kacer Wulung lebih mahal. Yakni, mencapai Rp1,3 juta untuk anakan jantan dan Rp1 juta untuk anakan betina. “Kalau dijual sepasang, indukan Kacer Wulung bahkan bisa laku sampai Rp5juta,” bebernya.

Lihat juga...