Lebaran CDN

Budidaya Tabulampot Mamey Sapote, Sawo Raksasa asal Amerika

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Bagi penggemar buah sawo, belum lengkap rasanya jika belum mencoba ‘raja’ sawo, mamey sapote. Ya, julukan tersebut mengacu pada ukuran buah yang besar, dengan berat bisa mencapai 3 kilogram per buah.

Tanaman ini pun banyak dicari oleh penggemarnya, untuk dibudidayakan. Selain tertarik dengan bentuk buah yang besar, budidaya mamey sapote pun relatif mudah. Termasuk dengan metode tanam tanaman buah dalam pot (tabulampot).

“Mamey sapote, relatif mudah ditanam. Perawatannya juga gampang, bahkan oleh orang yang baru mencoba berkebun sekalipun. Termasuk melalui tabulampot, tetap bisa berbuah dengan baik asalkan terpenuhi kebutuhan nutrisinya,” papar petani mamey sapote asal Mijen Semarang, Ismanto, saat ditemui, Senin (26/4/2021).

Dijelaskan, ada tiga cara budidaya vegetatif dalam proses pembibitan mamey sapote, yakni cara sambung pucuk, sambung susu dan cangkok.

“Melalui cara ini, setidaknya, umur 1,5 tahun sudah muncul buah. Berbeda dengan semaian biji, lalu tumbuh tunas baru. Cara tersebut, setidaknya membutuhkan waktu hingga 10 tahun, baru bisa berbuah,” terangnya.

Itu sebabnya, bibit mamey sapote untuk budidaya tabulampot, umumnya berupa cangkok dan sambung susu. Dari segi pertumbuhan, sambung susu lebih bagus dari cangkok, dan lebih cepat berbuah. Hanya saja untuk sambung susu, harga bibit lebih mahal karena, teknik tersebut melakukan penyambungan dengan batang bawah dari tunas.

“Jadi mamey sapote ini, rata-rata hanya memiliki satu biji buah. Biji ini kemudian disemaikan, hingga tumbuh tunas. Pada usia sekitar satu tahun, tunas ini kemudian disambungkan dengan dahan mamey sapote, sehingga pertumbuhannya bisa lebih cepat. Ini yang dinamakan teknik sambung susu,” tandasnya.

Ismanto juga menjelaskan, dari proses muncul bunga, berbuah hingga masak siap panen, buah sawo mamey sapote membutuhkan waktu cukup lama, sekitar 9 bulan. “Namun pada umumnya, buahnya ini susul menyusul. Artinya saat satu buah muncul, berusia dua bulan, nanti muncul bunga baru lagi, sebagai bakal buah,” tandasnya.

Jika ditanam dalam tabulampot, diperlukan ukuran pot yang cukup besar, berdiameter sekitar 70 centimeter. Sementara, sebagai media tanam, bisa digunakan tanah, ditambahkan pupuk kandang serta pupuk NPK

“Berikan perawatan rutin dengan menyiram dan menambah ulang pupuk kandang dan NPK setiap enam bulan sekali. Penyiraman bisa dilakukan dua hari sekali. Dengan cara ini, sekitar 1,5 hingga 2 tahun, pohon mamey sapote akan mulai berbunga dan menjadi bakal buah yang tumbuh pada batang atau cabang pohon,” tandasnya.

Penggemar mamey sapote, Restu Indah, mengaku tertarik untuk budidaya tanaman sawo tersebut, saat ditemui di Semarang, Senin (26/4/2021). Foto Arixc Ardana

Terpisah, salah satu penggemar mamey sapote, Restu Indah, mengaku tertarik untuk budidaya tanaman sawo tersebut.

“Saat ini masih belajar soal budidaya mamey sapote. Selain ukurannya yang besar, rasanya juga manis. Selain itu, jika budidaya ini berhasil, juga bisa menjadi usaha bisnis,” terangnya.

Dijelaskan satu buah mamey sapote berukuran 2-3 kilogram, bisa dijual seharga Rp150 ribu – Rp250 ribu per buah. Demikian bibit tanaman tersebut, juga bisa laku seharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Lihat juga...