Lebaran CDN

Buka Peluang Usaha Kemitraan Pertashop, Ini Persyaratannya

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Berupaya meningkatkan perekonomian masyarakat dengan mendekatkan sumber penyaluran bahan bakar minyak (BBM) di tengah masyarakat, Pertamina mengajak pemerintah desa, dalam perluasan dan pemerataan distribusi energi melalui Pertashop.

Tidak hanya itu, langkah tersebut juga menjadi upaya dalam memperluas jangkauan pemerataan energi di pelosok pedesaan, yang selama ini tidak atau belum terlayani oleh lembaga penyalur Pertamina.

“Keberadaaan Pertashop ini menjadi upaya kita untuk memperluas jangkauan penyaluran energi, khususnya BBM. Salah satunya dengan mengusung program One Village One Outlet (OVOO), dimana setiap desa atau kecamatan akan memiliki Pertashop,” papar Unit Manager Communication, Relations, & Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina Pemasaran Regional Jawa Bagian Tengah (JBT), Brasto Galih Nugroho, saat dihubungi di Semarang, Selasa (27/4/2021).

Unit Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Pemasaran Regional JBT, Brasto Galih Nugroho, saat dihubungi di Semarang, Selasa (27/4/2021). Foto: Arixc Ardana

Dijelaskan, kehadiran Pertashop diharapkan mampu meningkatkan taraf ekonomi, baik untuk masyarakat umum atau konsumen maupun untuk pengusaha yang menjalankan bisnis Pertashop.

“Dengan adanya Pertashop, konsumen yang tinggal di pedesaan tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke SPBU hanya untuk mengisi bahan bakar. Selain itu Pertashop juga bisa menjadi bisnis tersendiri yang memberikan keuntungan usaha, baik yang berbasis kelompok masyarakat seperti BUMDes maupun pengusaha swasta,” jelasnya.

Untuk itu, guna mempercepat perluasan Pertashop, Pertamina telah memiliki skema kemitraan dengan pengusaha untuk berinvestasi Pertashop.

“Kami telah membuka peluang investasi bagi para pengusaha untuk mengelola SPBU mini atau Pertashop, yang tentu nilai investasinya lebih rendah dari SPBU reguler dan bisnisnya sangat menjanjikan jika melalui Pertashop, berupa outlet SPBU mini,” tandasnya.

Brasto menambahkan untuk bisa bergabung dalam kemitraan Pertashop, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, diantaranya memiliki badan usaha seperti CV, PT, Koperasi, Usaha Dagang (UD), maupun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Selain itu, juga diperlukan izin atau persetujuan dari pemerintah daerah setempat, dalam pendirian Pertashop. Untuk persyaratan dan penjelasan lebih lengkap, dapat dilihat pada tautan ptm.id/MitraPertashop.

“Modal usaha yang dibutuhkan tidak sebesar untuk investasi SPBU. Termasuk juga tidak membutuhkan lahan yang luas. Ada tiga skema dan jenis Pertashop yang ditawarkan, yakni gold dengan rekomendasi omzet 400 liter per hari, platinum 1000 liter per hari dan diamond, dengan rekomendasi omzet mencapai 3 ribu liter per hari,” tandasnya.

Sejauh ini, sejak pertama kali Pertashop dikenalkan pada Februari 2020 lalu, hingga saat ini Pertashop di wilayah Jateng- DIY, telah hadir di 207 titik.

“Angka tersebut akan terus bertambah, mengingat masih banyak desa atau kecamatan yang belum tersedia SPBU. Ditargetkan 1.647 Pertashop di Jawa Tengah dan DIY di tahun 2021,” jelas Brasto.

Ditandaskan, pihaknya terus berupaya mendorong program satu desa tersedia satu outlet Pertashop. Harapannya, dengan semakin bertambahnya jumlah Pertashop, utamanya di desa-desa yang belum terjangkau SPBU, semakin memudahkan masyarakat dalam mendapatkan BBM.

Terpisah, salah satu pengusaha asal Semarang, Ari Kurniawan mengaku tertarik dengan program kemitraan Pertashop. Selain modal yang dibutuhkan relatif tidak terlalu besar, dibanding dengan usaha SPBU, juga ada pendampingan dari Pertamina.

“Misalnya untuk calon operator Pertashop atau pegawai, ada pelatihan magang di SPBU Pertamina terdekat, termasuk ada pendampingan. Selain itu juga didukung dengan ketersediaan elpiji bright gas dan pelumas. Ini tentu bisa menjadi peluang usaha lainnya,” tandasnya.

Lihat juga...