Lebaran CDN

Cara Budidaya Ulat Hongkong Agar Hasil Panen Optimal

Editor: Makmun Hidayat

BOGOR — Budidaya ulat hongkong atau mealworm atau tenebrio molitor perlu ketelitian, keuletan dan kesabaran. Ulat hongkong sangat membutuhkan suhu, kelembaban dan kebersihan untuk menghasilkan panen optimal.

Peternak ulat hongkong, Beny, menyebutkan sebelum budidaya, para peternak harus mempersiapkan lokasi ternak, rak dan kotak budidaya, bibit ulat hongkong dan pakan terlebih dahulu.

“Beternak ulat hongkong tidak bisa dikatakan mudah. Walaupun tak berbeda jauh dengan beternak jangkrik maupun ulat jerman tapi tingkat ketelitian, keuletan dan kesabaran yang lebih besar,” kata Beny saat ditemui di lokasi peternakannya di Cibungbulang Bogor, Senin (19/4/2021).

Peternak ulat hongKong, Beny, sedang memberi makan ulat ternakannya, di Cibungbulang Bogor, Senin (19/4/2021). -Foto Ranny Supusepa

Ia memaparkan saat sudah menentukan lokasi untuk membangun kandang, para peternak bisa memulai mempersiapkan rak bertingkat sebagai wadah budidaya.

“Pilih kayu dengan kualitas yang baik sehingga tidak cepat rusak. Dan jika ingin menghemat lahan, rak tingkatnya bisa dibuat agak tinggi. Tapi pertimbangkan juga kemudahan memberi makan dan membersihkannya,” urainya.

Kalau kandang dan wadah sudah siap, baru dipersiapkan bibitnya. “Kalau saya, per wadah itu 2 kg. Supaya bibit tumbuh baik dan tidak ada kanibalisme,” tutur Beny.

Ia menyebutkan aspek utama yang perlu diperhatikan adalah suhu dan kelembaban. Karena jika tidak ditunjang dengan ekosistem yang baik maka hasilnya tidak optimal.

“Suhunya adalah 27 derajat Celcius dengan tingkat kelembaban minimal 20 persen dan maksimal 90 persen,” ucapnya.

Selain itu peternak ulat hongkong harus selalu memperhatikan kebersihan kandang.

“Tempat hidup ulat hongkong harus kering dan bersih. Pembersihan kandang harus dilakukan setiap hari dan pembersihan kotoran dilakukan setiap seminggu sekali,” ucapnya lagi.

Untuk pakan utama, Beny menyebutkan adalah dedak gandum atau pollard dengan takaran satu kilogram ulat hidup mendapatkan 300 gram, dengan masa pemberian pakan sehari dua kali.

“Sementara kulit ubi, limbah sayur dan limbah buah dapat digunakan sebagai pakan tambahan. Bisa ditambahkan juga pakan booster, untuk ulat yang akan berubah menjadi pupa. Tidak ada takarannya, hanya perlu dipastikan agar selalu terisi dan jangan sampai habis di kotak budidaya,” ujarnya.

Siklus hidup larva yang dalam 70-90 hari akan berubah menjadi ulat dewasa, lalu berubah menjadi pupa dalam waktu 10-15 hari dan 7-10 hari kemudian akan bermetamorfosis menjadi kumbang. Kumbang ini nantinya akan bertelur untuk menjadi ulat muda dalam kurun waktu 4-19 hari, tergantung pada suhu.

“Kebutuhan di Jabodetabek itu 80 ton per bulan. Sementara saya hanya mampu menyuplai paling hanya 1 persen. Menurut saya, ulat hongkong ini cukup menjanjikan karena harganya cukup memuaskan sebab yang membutuhkan adalah penghobi,” pungkasnya.

Lihat juga...