Lebaran CDN

Covid-19 Klaster Salat Tarawih Mulai Muncul di Banyumas

Editor: Koko Triarko

Bupati Banyumas, Achmad Husein mengungkapkan tentang munculnya klaster tarawih di Purwokerto, Kamis (29/4/2021). -Foto: Hermiana E. Effendi

PURWOKERTO – Setelah mereda sekitar dua bulan, kali ini kembali muncul klaster Covid-19 di Kabupaten Banyumas, yaitu klaster Salat Tarawih. Tercatat ada 52 orang yang terkonfirmasi positif dari klaster tersebut selama bulan Ramadan ini.

“Ada dua klaster tarawih di Banyumas, yaitu di Desa Pekaja, Kecamatan Kalibagor dan di Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede, total ada 52 orang yang sudah terkonfirmasi positif Covid-19,” kata Bupati Banyumas, Achmad Husein, Kamis (29/4/2021).

Bupati menjelaskan, klaster tarawih di Desa Pekaja bermula dari satu orang yang dalam kondisi sakit namun tetap salat tarawih di masjid. Kemudian hasil swab test dari kontak erat diperolah 13 orang positif Covid-19. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyumas kemudian melakukan tracing ke dua terhadap 16 orang kontak erat berikutnya, dan ditemukan 10 orang positif Covid-19. Dan, pada tracing ke tiga terhadap 54 kontak erat, ditemukan 22 orang positif Covid-19.

“Jadi di Desa Pekaja, Kecamatan Kalibagor ini, total ditemukan ada 45 orang positif Covid-19. Dari jumlah tersebut, hanya satu orang yang saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit, dan sisanya sebanyak 44 orang melakukan isolasi mandiri dengan pengawasan ketat oleh petugas,” jelas Husein.

Sementara di Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede, dari hasil swab test, petugas menemukan 7 orang positif Covid-19. Saat ini mereka masih menjalani karantina di balai diklat Baturaden.

Meskipun sudah mulai bermunculan klaster-klaster tarawih, namun Husein menyatakan tetap memperbolehkan untuk melakukan salat tarawih di masjid dan musala. Hanya saja, penerapan protokol kesehatan akan diperketat dengan mengerahkan petugas jabid  atau jaga kormobid maupun satgas Covid-19 tingkat RT-RW.

“Salat tarawih tetap diperbolehkan, tetapi akan diperketat pengawasannya, kapasitas maksimal hanya 50 persen dan jarak antarjemaah harus benar-benar dijaga, serta waktu salat disegerakan, jangan terlalu lama. Dan, semua jemaah wajib menggunakan masker serta membawa peralatan salat sendiri,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Dinkes Kabupaten Banyumas, Sadiyanto, mengungkapkan munculnya klaster salat tarawih ini karena ada beberapa kelompok masyarakat yang melakukan salat berpindah-pindah. Jadi, mereka melakukan salat tarawih di beberapa masjid atau musala.

Dengan berpindah-pindahnya kelompok masyarakat ini, maka secara otomatis tracing juga lebih diperluas lagi. Hingga ditemukan klaster salat tarawih dalam jumlah yang cukup banyak.

“Seharusnya, salat tarawih dilakukan di masjid atau musala terdekat saja dan hanya diikuti oleh warga sekitar, sehingga tidak ada perpindahan lokasi tarawih. Ini akan lebih aman dalam pengontrol penyebaran Covid-19”, katanya.

Lihat juga...