Lebaran CDN

Dampak Bencana, Dua Jembatan di Adonara Timur Putus

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LARANTUKA – Dua jembatan yang menghubungkan beberapa kecamatan di timur Pulau Adonara dengan Kelurahan Waiwerang Kota, Ibukota Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih putus.

“Kami masih menggunakan jembatan darurat yang dibangun dari kayu, seharusnya dibangun jembatan darurat yang lebih bagus agar bisa dilintasi mobil pick up,” saran Wahyudin, warga Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT saat ditemui di Kelurahan Waiwerang Kota, Rabu (14/4/2021).

Warga Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT, Wahyudin saat ditemui di dekat jembatan Waiburak yang putus, Rabu (14/4/2021). Foto: Ebed de Rosary

Wahyudin menyebutkan, kedua jembatan yang putus tersebut yakni jembatan Waiwerang di sebelah selatan dan jembatan Waiburak yang hanya berjarak sekitar 110 meter sebelah utara jembatan Waiwerang.

Ia katakan, semua barang kebutuhan pokok diambil di Waiwerang sebab di ibukota Kecamatan Adonara Timur ini terdapat pelabuhan sebagai tempat bersandar kapal dari Larantuka maupun Lewoleba, Kabupaten Lembata.

Warga yang memiliki kios dan berjualan sebut dia, berbelanja di Kota Larantuka lalu menggunakan kapal turun di Waiwerang dan mengangkut barangnya menggunakan mobil pick up ke desanya.

“Setelah jembatan putus maka warga tidak bisa lagi berbelanja barang dalam jumlah banyak. Sebab tidak bisa mengangkutnya menggunakan mobil. Paling-paling hanya menggunakan sepeda motor,” ucapnya.

Wahyudin menyebutkan, ketika jembatan Waiburak putus, warga sudah mengantisipasinya dan warga semua sudah keluar rumah, diarahkan untuk lari ke dataran tinggi.

Ia tambahkan, karena saat itu sedang tengah malam dan banyak yang masih mengantuk sehingga melarikan diri ke tempat lain lalu terbawa banjir dan meninggal dunia.

“Seharusnya pemerintah sudah memberitahukan kepada warga terlebih dahulu mengenai kemungkinan akan adanya bencana sesuai ramalan BMKG sehingga warga bisa lebih waspada,” sesalnya.

Sementara itu, Ramdani seorang warga Kelurahan Waiwerang Kota mengakui, pemerintah terkesan lamban dalam menangani pengungsi sebab usai terjadi banjir bandang warga pun mengungsi sendiri.

Hingga hari kedua kata Ramdani, pemerintah belum datang dan memberikan bantuan termasuk jembatan darurat pun dibangun oleh aparat TNI dan Polri. Barulah warga mulai bisa ke Waiwerang.

“Hari Selasa (6/4/2021) warga baru bisa ke Kota Waiwerang karena sudah dibangun jembatan darurat dari kayu kelapa oleh TNI dan Polri. Namun sangat disayangkan pemerintah terkesan lambat dalam menangani pengungsi,” sesalnya.

Lihat juga...