Dampak Corona, Ritual Semana Santa Batal Dilaksanakan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LARANTUKA – Dampak pandemi Corona mengakibatkan ritual proses Jumat Agung yang sudah berlangsung hingga 5 abad lebih di Kota Larantuka, Desa Konga Kecamatan Titehena dan Desa Wure Kecamatan Adonara Barat di Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT), tak dilaksanakan.

“Dampak pandemi membuat segenap ritual saat Pekan Suci atau Semana Santa yang biasa dilaksanakan dibatalkan selama tahun 2020 dan 2021,” kata Noben da Silva warga Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT saat dihubungi, Minggu (4/4/2021).

Warga Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT, Noben da Silva, saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Larantuka, Rabu (31/3/2021). Foto: Ebed de Rosary

Noben menjelaskan, di Kota Larantuka, umat Katolik hanya menyalakan lilin di sepanjang jalan dan di Armida atau perhentian saat prosesi Jumat Agung berlangsung.

Dia sebutkan, biasanya di ketiga daerah tersebut, saat malam Jumat Agung, umat Katolik melaksanakan prosesi atau berjalan kaki sambil berdoa dan menyanyi serta berhenti di Armida.

“Prosesi keliling Kota Larantuka dan mengitarai Desa Konga serta Wure  dijalankan secara serempak saat malam Jumat Agung, namun kini terpaksa dibatalkan. Di Konga perarakan hanya berlangsung di dalam gereja,” ucapnya.

Noben mengakui, ritual agama berpadu adat dan budaya ini telah dilaksanakan secara turun temurun selama 5 abad lebih dan banyak diikuti oleh berbagai umat Katolik di penjuru dunia.

Dirinya menambahkan, meski dibatalkan namun ritual sembahyang di Kapela dan Cium Patung tetap berlangsung dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat bagi umat yang hadir.

“Beberapa ritual tetap dilaksanakan meskipun dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat dan terbatas bagi umat di wilayah tersebut saja. Semoga pandemi Corona bisa segera berlalu agar ritual tetap bisa dijalankan tahun depan,” harapnya.

Sementara itu, Rin Riberu, warga Kelurahan Lokea, Kota Larantuka menyebutkan, tradisi menyalakan lilin di sepanjang jalan yang diikat di Turo (pagar bambu) juga tidak terlaksana akibat pandemi Corona.

Rin menambahkan, sebagai gantinya umat Katolik di kelurahannya menyalakan lilin di sepanjang jalan dengan meletakannya di jalan dan trotoar serta di Armida atau tempat perhentian saat perarakan prosesi.

“Kami juga mengadakan ibadah bersama di Armida seraya menyalakan lilin. Umat Katolik pun menyalakan lilin di sepanjang jalan dengan meletakannya di trotoar jalan,” ucapnya.

Lihat juga...