Lebaran CDN

Dari Kotoran Sapi, Abraham Produksi Pupuk Lima Ton Sebulan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANDUNG – Sejak tahun 2006, Suryana Abraham (68) warga desa Mekarlaksana, Cikancung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sudah mulai menggeluti usaha produksi pupuk organik berbahan dasar kotoran sapi.

Di area produksi seluas 500 meter persegi miliknya, Abraham mampu memproduksi pupuk organik sebanyak 5 ton per bulan.

Berdasarkan pengakuannya, semula ia merasa prihatin dengan banyaknya kotoran sapi yang terbuang begitu saja dan mencemari lingkungan. Atas dasar itu, ia pun terdorong untuk mendaur ulang kotoran sapi menjadi pupuk.

“Masyarakat di sini seperti tidak peduli sama lingkungan. Kotoran sapi dibuang sembarangan, ada yang ke kali, ada yang selokan. Jadi waktu itu saya tergerak coba daur ulang kecil-kecilan. Saya minta kotoran sapi mereka. Ya syukurnya dikasih,” ujar Abraham kepada Cendana News, Rabu (28/4/2021) di Kabupaten Bandung.

Siapa sangka, dari situlah Abraham justru berhasil mengembangkan pengelolaan kotoran sapi menjadi bisnis yang menjanjikan. Saat ini, untuk memenuhi target produksi 5 ton pupuk organik per bulan, ia bahkan harus memesan kotoran sapi dari salah satu perusahaan peternak sapi di Bandung.

“Masih ada ambil dari kandang peternak kecil, yang cuma sedikit. Lagi pula mereka juga sudah mulai mengerti cara mengelola kotoran sapinya. Jadi tidak terbuang,” kata Abraham.

Adapun sisa bahan dasar kotoran sapi ia pesan dari PT Kadil Lestari Jaya. Dalam sebulan, rata-rata ia memesan 15 dum kotoran sapi.

“1 dum itu kurang lebih 4 ton. Harga 1 dumnya Rp200 ribu. Jadi dari mereka itu masih basah, lalu kotoran sapinya kita jemur sampai kering dan kita beri obat agar tidak bau. Proses pengeringan biasanya satu bulan,” jelas Abraham.

Setelah kotoran sapi mengering dan tidak bau, selanjutnya kotoran sapi digiling sampai halus. Proses penggilingannya sendiri tidak lama, kata Abraham, satu hari bisa selesai paling sedikit 5 ton.

“Alhamdulillah pembelinya banyak. Bahkan ada yang dari Sumatera dan Riau. Kalau di Jawa Barat paling banyak yang mesan dari Pangalengan. Saya jual 1 karung ukuran 40 kilogram pupuk itu Rp10 ribu,” ungkap Abraham.

Pupuk organik sendiri memiliki khasiat yang dinilai tidak kalah dengan pupuk kimia. Menurut Syahdan (53), petani asal Cikancung, Kabupaten Bandung, dengan menggunakan pupuk organik, kualitas tanah tetap subur meski ditanami dalam waktu yang panjang, dan tanah itu pun ikut terehabilitasi.

“Pupuk organik ini menyediakan hara tanaman dan memperbaiki struktur tanah, baik dalam memperbaiki drainase maupun pori-pori tanah,” kata Syahdan saat ditemui di ladangnya, di Kampung Cipulus, Desa Mandalasari, Cikancung, Rabu (28/4/2021).

Di samping itu, Syahdan menyebut, pupuk organik cocok digunakan untuk berbagai jenis tanaman, baik itu buah-buahan, sayuran, maupun padi. Bahkan, Syahdan mengatakan, hasil panen yang didapatkan bisa lebih baik dari tanaman yang menggunakan pupuk kimia.

“Ini sudah saya uji sendiri waktu menanam padi. Dari ladang 100 tumbak (1 tumbak 14 meter) bisa dapat 1 ton beras. Kalau pakai pupuk kimia tidak sampai segitu. Kenapa bisa begitu, karena kandungan protein pupuk organik itu lebih besar,” tandasnya.

Lihat juga...