Lebaran CDN

Dinpertan Purbalingga Dorong Petani Kendalikan OPT Lebih Dini

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURBALINGGA – Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) merupakan salah satu pengganggu tanaman yang cukup mematikan. Karenanya Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga mendorong agar para petani lebih dini melakukan pencegahan dan pengendalian OPT.

Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kertanegara, Dinpertan Kabupaten Purbalingga, Kisno mengatakan, keberadaan OPT banyak dikeluhkan para petani karena merusak tanaman mereka. Sebab, organisme pengganggu tanaman ini menghambat pertumbuhan dan ada juga yang menyerap nutrisi tanaman.

“Kita mendorong para petani untuk lebih dini memerangi OPT ini melalui penyuluh pertanian di kecamatan-kecamatan. OPT ini tidak bisa dikesampingkan keberadaannya, karena jika terlambat ditangani bisa menyebabkan tanaman mati,” jelasnya, Senin (26/4/2021).

Lebih lanjut Kisno menjelaskan, ada tiga jenis OPT yang harus diperhatikan para petani, yaitu hama, faktor penyakit dan gulma.

Hama ini merupakan hewan yang merusak tanaman secara langsung. Misalnya serangga, bekicot, keong, tikus dan lainnya.

Sedangkan faktor penyakit merupakan organisme pembawa penyakit yang mengganggu tanaman, misalnya cendawa, bakteri dan virus. Jenis pengganggu ini menyerang tanaman dengan sangat cepat dan penularannya juga cepat, terlebih jika jarak tanam cukup dekat.

Organisme penggangu tanaman lainnya yaitu gulma, yang merupakan tumbuhan liat pengganggu pertumbuhan tanaman, karena gulma ini menyerap nutrisi tanaman. Sehingga terjadi perebutan asupan nutrisi dengan tanaman.

“Untuk penanggulangan OPT ini, bisa dilakukan secara organik, yaitu menggunakan pestisida nabati dan yang perlu diterapkan sejak awal tanam yaitu, jarak antartanaman sebaiknya lebih longgar, untuk mengantisipasi penyebaran gulma,” terangnya.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Desa Krangean, Nur A’isa Yudiasih mengatakan, dalam gerakan pengendalian OPT di Desa Krangean, para petani cukup antusias menyimak penjelasan dari petugas penyuluh pertanian.

Pelaksanaan gerakan pengendalian OPT mengutamakan penggunaan bahan pengendali hayati, dilakukan secara massal dan dalam hamparan yang luas.

“Kegiatan pengendalian OPT ini merupakan upaya untuk mengamankan produksi tanaman pangan dari serangan OPT. Dan kita melaksanakannya dengan kelompok tani Cakra Bawana Desa Krangean, Kecamatan Kertanegara,” tuturnya.

Metode pengendalian OPT penggerek batang padi sawah dilakukan dengan penyemprotan pestisida secara serentak. Sebab berdasarkan laporan, ada serangan OPT penggerek batang seluas 7 hektar dengan kategori ringan dan terancam 11 hektar yang menyerang tanaman padi berumur 15-30 hari.

“Jika petani menerapkan gerakan OPT lebih awal, maka tanaman akan terlindungi dan target produksi bisa tercapai. Dan supaya efektif, maka OPT harus dilaksanakan sesuai petunjuk teknis yakni dengan metode yang sama, dilaksanakan secara serentak, terkoordinir, sehamparan dan terus menerus,” ucapnya.

Lihat juga...