Lebaran CDN

Distribusi LPG di Kalsel Terkendala Jalan Rusak

Ilustrasi. Petugas menyiapkan elpiji 3 kg yang akan dinatar dari agen ke pangkalan, di Kabupaten Hulu Sungai Utara - foto Ant

BANJARMASIN – Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Kalimantan Selatan (Kalsel) mengatakan, sejak enam hari terakhir distribusi elpiji baik yang subsidi maupun nonsubsidi di daerah tersebut, terkendala kerusakan jalan Gubernur Syarkawi.

Ketua Hiswana Migas Kalsel, Saibani mengatakan, Jalan Gubernur Syarkawi, merupakan jalur distribusi utama dari Depo LPG Pertamina di Kabupaten Barito Kuala ke beberapa Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE), ke Banjarmasin, Kabupaten Banjar, Banjarbaru, Tanah Laut dan Tanah Bumbu. ”Sehingga terhambatnya jalur distribusi di Jalan Gubernur Syarkawi, secara otomatis juga menghambat distribusi ke seluruh daerah tersebut,” jelasnya, Minggu (11/4/2021).

Padahal, stok elpiji baik subsidi maupun nonsubsidi cukup berlimpah, dan mampu mencukupi hingga 10 hari ke depan. Saat ini, stok elpiji di Kalsel sebanyak 3.752 metrik ton lebih. Sedangkan kebutuhan warga, per-harinya sekira Rp400 metrik ton. “Sehingga bila dibagi dari seluruh stok yang ada, masih akan mencukupi kebutuhan hingga 9-10 hari ke depan,” katanya.

Saibani berharap, pemerintah provinsi dan pihak terkait lainnya, bisa turun tangan membantu persoalan kesulitan distribusi elpiji tersebut. Hal itu dikarenakan, sebentar lagi sudah memasuki puasa Ramadan.

Dikhawatirkan, bila kendala distribusi tidak segera mendapatkan perhatian, bisa menyebabkan terjadinya gejolak harga elpiji, yang bisa memicu terjadinya inflasi. Akibat jalan rusak, angkutan gas elpiji yang biasanya satu hari bisa bolak-balik mendistribusikan elpiji ke beberapa SPBE, kini perjalanan bisa mencapai tiga hari. “Kondisi ini, juga menyebabkan para sopir lelah di perjalanan,” katanya.

Akibat kerusakan Jalan Gubernur Syarkawi, banyak mobil terperosok bahkan terguling, sehingga mengakibatkan kemacetan bertambah parah. Sedangkan evakuasi terhadap mobil yang menghalangi jalan tersebut berjalan cukup lambat, sehingga kondisi kemacetan semakin parah.

Mengatasi hal tersebut, sejak Minggu (11/4/2021), Pertamina secara mandiri menyewa kapal jenis Landing Craft Tank (LCT), untuk mengangkut truk-truk bermuatan elpiji dari Depot Mini LPG Pertamina yang ada di sekitar Jembatan Barito. Namun, upaya tersebut juga tidak bisa berjalan maksimal sebagaimana diharapkan, karena menggunakan LCT juga terkendala pasang surut air sungai. “Saya sudah menyampaikan persoalan ini kepada Bapak Penjabat Gubernur Kalsel, tetapi hingga kini belum mendapatkan tanggapan,” katanya.

Saibani berharap, bila jembatan Kayu Tangi lama dibuka, pihaknya akan mendapatkan prioritas untuk melintasinya, mengingat persoalan distribusi elpiji sangatlah penting. (Ant)

Lihat juga...