Lebaran CDN

DKK Semarang: Kesadaran Menurun, Pengawasan Prokes Perlu Diperketat Lagi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, Abdul Hakam saat dihubungi di Semarang, Jumat (23/4/2021). Foto Arixc Ardana

SEMARANG — Angka penerima vaksinasi covid-19 yang terus bertambah, rupanya tidak diimbangi dengan peningkatan kesadaran penerapan protokol kesehatan (prokes) di masyarakat.

Setidaknya, berdasarkan grafik prokes mingguan pada bulan April 2021, penerapan prokes di Kota Semarang mengalami penurunan.

“Angka penerima vaksinasi covid-19 di Kota Semarang terus bertambah, dari data yang kita miliki per Jumat (23/4/2021) pukul 17.00 WIB, jumlah penerima vaksin sebanyak 317.918, dengan rincian 311.411 terlaksana, 3.490 baru mendaftar, 1.234 ditunda dan 1.770 dijadwal ulang,” papar Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, Abdul Hakam saat dihubungi di Semarang, Jumat (23/4/2021).

Di satu sisi, dengan peningkatan jumlah penerima vaksin tersebut, kesadaran masyarakat dalam penerapan prokes justru menurun. Berdasarkan data grafik prokes mingguan DKK Semarang, pada bulan April 2021, untuk kesadaran cuci tangan pakai sabun (CTPS) atau hand sanitizer hanya 76 persen, memakai masker 76 persen, serta menjaga jarak 73,7 persen.

“Ini yang perlu disadari oleh masyarakat bahwa vaksin saja, tidak dapat mencegah seseorang tersebut terpapar covid-19. Selain vaksin, tetap perlu penerapan protokol kesehatan yang selama ini sudah dijalankan,” tandasnya.

Hakam mencontohkan, CTPS menjadi salah satu upaya pencegahan penyakit. Hal ini dilakukan karena tangan sering kali menjadi agen yang membawa kuman dan menyebabkan patogen berpindah dari satu orang ke orang lain, baik dengan kontak langsung atau melalui perantara seperti gagang pintu, alat makan, dan lainnya.

“Meski saat ini sudah banyak disediakan tempat cuci tangan di pintu masuk, entah itu di taman, ruang publik, perkantoran, pasar dan lainnya, namun kesadaran masyarakat untuk melakukan CTPS ini masih relatif rendah. Untuk itu kita minta kembali, kita edukasi lagi, bahwa vaksin tidak membuat kita kebal covid-19, namun perlu dukungan dengan penerapan prokes,” tandasnya.

Hal senada disampaikan pengamat kesehatan masyarakat Undip, Dr Budiyono. Dijelaskan, ada anggapan keliru di masyarakat, bahwa mereka yang sudah divaksin, akan kebal terhadap covid-19.

“Vaksinasi tersebut bertujuan untuk menekan potensi terpapar covid-19, bukan berarti kebal, sehingga kita tetap perlu menerapkan protokol kesehatan. Ini yang harus dipahami,” tandasnya.

Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undip tersebut, juga mendorong agar pemerintah memberikan edukasi dan sosialisasi terkait pemahaman vaksin tersebut. Termasuk menegakkan kembali aturan dan pengawasan, terhadap pelaksanaan penerapan prokes.

“Kalau kita lihat sekarang, adanya kelonggaran penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) kurang diimbangi dengan kesadaran dan kedisiplinan masyarakat, dalam prokes. Silahkan di cek saja, di tempat hiburan, rumah makan, cafe, banyak yang sudah mengabaikan. Mereka banyak bergerombol dan berkerumun. Ini tentu menjadi permasalahan bersama, yang perlu tindakan pencegahan,” pungkasnya.

Lihat juga...