Lebaran CDN

Edukasi Menjaga Bumi, Tagana Lamsel Rutin Gelar TMS

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Menjaga kelestarian bumi dan lingkungannya menyasar dunia pendidikan rutin digelar Tagana Lampung Selatan.

Hasran Hadi, Sekretaris Taruna Siaga Bencana (Tagana) Lamsel menyebut upaya itu berkorelasi erat dengan mitigasi bencana. Dunia pendidikan sebutnya jadi tempat penyadartahuan fungsi alam untuk menjaga dan meminimalisir bencana.

Hasran Hadi (kanan), Sekretaris Tagana Lampung Selatan, memberikan materi mitigasi bencana dan pentingnya menjaga bumi di PSAA Kalianda, Lampung Selatan, Kamis (22/4/2021) – Foto: Henk Widi

Sejumlah sekolah tingkat TK hingga SMA sebutnya telah diajak untuk memahami fungsi lingkungan. Sepanjang tahun 2021 kegiatan edukasi berkonsep Tagana Masuk Sekolah (TMS) digelar pada SMK Way Sulan, Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA).

Edukasi yang diberikan sebutnya pemahaman akan jenis bencana alam, upaya meminimalisir risiko dan pencegahan.

Dunia pendidikan sebutnya mulai tingkat TK hingga SMA sebut Hasran Hadi perlu pemahaman pengurangan risiko bencana.

Menggunakan alat peraga, alat bantu berupa buku bacaan, poster dikombinasikan dengan simulasi jadi cara praktis untuk edukasi mitigasi bencana. Kegiatan langsung pembersihan sampah, penanaman pohon jadi cara pencegahan banjir, bencana tsunami di pantai.

“Kendala kami dalam mengedukasi mitigasi bencana saat ini karena sekolah tidak melakukan kegiatan belajar tatap muka, sebagai gantinya kami berikan materi pada lembaga pendidikan yang masih tetap menjalankan kegiatan karena masih zona hijau,” terang Hasran Hadi saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (22/4/2021).

Hasran Hadi bilang, alat peraga edukasi mitigasi bencana memakai alat terbatas. Tagana Lamsel sebutnya membuat buku panduan hingga mengedukasi siswa sekolah simbol-simbol dan tanda peringatan terkait kebencanaan.

Simbol tersebut berupa arah panah lokasi evakuasi, titik kumpul hingga lokasi penampungan. Saat bencana alam tsunami, gempa bumi, banjir, alarm atau tanda bunyi perlu dipahami.

Penggunaan alat peraga berupa video sebut Hasran Hadi juga menjadi salah satu alat edukasi. Dampak kerugian, kerusakan hingga simulasi terjadinya bencana alam dalam bentuk audio visual memudahkan pelajar memahami mitigasi bencana.

Sebagai wilayah yang dekat dengan pantai berpotensi tsunami, Gunung Anak Krakatau (GAK) berpotensi erupsi, banjir sungai dan puting beliung siswa sekolah terus diedukasi pengurangan risiko bencana.

“Generasi muda yang ada di sekolah akan menjadi penyampai edukasi ke masyarakat untuk meminimalisir risiko bencana,” sebut Hasran Hadi.

Selain bencana alam, kerusakan alam atau bumi sebut Hasran Hadi bisa menjadi penyebab bencana. Penyadartahuan potensi bencana itu dilakukan dengan melihat video adanya bencana banjir sebab penggundulan hutan, penebangan pohon.

Langkah pencegahan juga dilakukan dengan praktik langsung mengurangi sampah, menanam berbagai jenis pohon penyerap air.

“Selain edukasi untuk menghindari bencana upaya pencegahan dilakukan dengan menanam pohon langsung,” paparnya.

Edukasi menjaga bumi saat peringatan Hari Bumi 22 April sebutnya melibatkan unsur Tagana dan siswa PSAA Kalianda.

Menjaga bumi sebutnya bisa dilakukan lembaga pendidikan dengan meminimalisir sampah di lingkungan sekolah. Keberadaan sungai yang bebas sampah, menanam pohon agar menyerap air jadi langkah kecil menjaga bumi.

Salah satu siswa sekolah di PSAA Kalianda, Nurahmat menyebut kegiatan Tagana Masuk Sekolah sangat penting.

Kegiatan yang mengedukasi pelajar untuk mitigasi bencana berkaitan dengan bencana gempa bumi, banjir, tsunami.

Pengetahuan akan risiko bencana diiringi dengan simulasi penyelamatan. Namun langkah antisipatif dilakukan dengan praktik lapangan.

Kegiatan praktik di lapangan dengan menanam pohon di tepi pantai memberi pengetahuan baru. Sebab keberadaan tanaman di tepi pantai berupa cemara, kelapa, mangrove dan tanaman lain bisa mencegah bencana.

Edukasi sejak dini tentang kebencanaan pada lingkungan sekolah jadi materi tambahan selain kegiatan akademik.

Lihat juga...