Enam Komponen Sekolah Penggerak Wujudkan Mutu Pendidikan Indonesia

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Program sekolah penggerak mengutamakan enam komponen dalam proses pembelajaran untuk menciptakan pelajar Pancasila dan sumber daya manusia (SDM) ungggul.

Kepala Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) DKI Jakarta, M.Salim Somad mengatakan, sekolah penggerak diharapkan dapat mewujudkan visi pendidikan Indonesia maju yang berdaulat. Sehingga pihaknya berupaya untuk memberikan pelayanan yang terbaik yang dapat dilakukan bagi peserta didik atau siswa.

“Sekolah penggerak bertujuan agar peserta didik kita mendapatkan pendidikan pembelajaran yang layak dan bermakna bagi kehidupan,” ujar Salim, pada webinar bertajuk Pendidikan dan Sekolah Penggerak di Jakarta yang diikuti Cendana News, Kamis (22/4/2021).

Program sekolah penggerak yang dijalankan melalui kolaborasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan pemerintah daerah (pemda) meliputi jenjang PAUD, SD, SMP, SMA dan SLB.

Dimana dalam pengembangan program ini terdapat enam komponen untuk menciptakan pelajar Pancasila. Yakni sebut dia, beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia.

Dengan demikian kata dia, akan selalu berupaya secara konsisten dan berikhtiar melakukan hal-hal yang baik.

“Pelajar Pancasila mengerti apa itu moralitas, spritualitas dan punya rasa cinta kepada agama juga sesama,” tegasnya.

Kedua, kebhinekaan global adalah perasaan saling menghormati keberagaman dan toleransi terhadap perbedaan tanpa rasa menghakimi dan dihakimi, serta tidak merasa dirinya lebih benar.

Apalagi saat ini menurutnya, dunia semakin kecil lantaran informasi bisa diakses dimana-mana. Oleh karenanya kebhinekaan global menjadi hal penting dan harus menjadi aspirasi dalam sistem pendidikan.

Ketiga yakni gotong royong. Menurutnya, pelajar Pancasila harus tahu cara berkolaborasi dan bekerjasama sesama siswa. Karena tidak akan ada pekerjaan dan aktivitas yang tidak membutuhkan gotong royong.

Adapun keempat kata dia, adalah kreativitas dimana pelajar Pancasila mempunyai kemampuan bukan hanya memecahkan masalah, tetapi untuk menciptakan inovasi yang proaktif dan berbeda.

Kelima yakni bernalar kritis merupakan assessment kompetensi yang akan diuji oleh Kemendikbud dalam kebijakan mereka belajar.

“Bernalar kritis seperti kemampuan menganalisa dan memecahkan masalah. Kemampuan untuk berpikir secara kritis dan menimbang berbagai solusi untuk suatu permasalahan,” jelas Salim.

Terakhir adalah kemandirian. Yakni kata dia, penilaian kemandirian bisa diukur dengan indikator dan motivasi. Apakah peserta didik terdorong dengan motivasi yang ada dalam dirinya. Atau sebaliknya malah terus harus didorong oleh pihak lain.

“Kemandirian itu bertumpu dari growth mindset, yakni suatu filsafat bahwa saya bisa lebih baik kalau terus berusaha sehingga ingin terus mencari informasi lebih banyak. Jadi growth mindset adalah kunci untuk kemandirian peserta didik,” ujarnya.

Lihat juga...