Lebaran CDN

FABA Kelompok Limbah Terbanyak di Indonesia

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kajian yang dilakukan oleh Nexus3, Bappenas dan ITB pada tahun 2020, menunjukkan bahwa fly ash and bottom ash (FABA) termasuk limbah  dalam kelompok terbanyak yang dihasilkan di Indonesia dan juga termasuk dalam kelompok dengan bahaya tertinggi.

Aktivis Lingkungan Nexus3 Foundation, Yuyun Ismawati, menyatakan, telah dilakukan penelitian bersama Bappenas dan ITB pada tahun 2020, terkait skoring 15 jenis limbah B3 terpilih, dengan parameter LD50, LC50, Radioaktivitas dan Recovery Rate.

“Dari 15 jenis limbah itu, ada 6 jenis yang termasuk ke dalam 10 jenis limbah terbanyak yang dihasilkan di sepanjang tahun 2019, berdasarkan data KLHK tahun 2020. Yaitu tailing sekitar 35 juta ton, fly ash sekitar 16,2 juta ton, spent bleaching earth sekitar 16 juta ton, bottom ash sekitar 9,2 juta ton, copper slug dan gipsum,” kata Yuyun dalam acara online Limbah B3 Lakardowo, Rabu (28/4/2021).

Dari penelitian ini, lanjutnya, tailing dan bottom ash merupakan kelompok dengan tingkat bahaya tertinggi dengan skor 13.

“Yang diikuti dengan kelompok skor 12 yang meliputi merkuri, sianida, e-waste dan timbal serta kelompok skor 11 adalah copper slug dan fly ash,” paparnya.

Dalam analisis aliran material limbah B3 yang dihasilkan oleh sektor institusi, sekitar 132 juta ton per tahun, dan oleh sektor non institusi, sekitar 1,6 juta ton per tahun, ditemukan hanya 67 persen yang terkelola.

“Terkelola ini meliputi yang hanya disimpan di TPS atau yang ditimbun, seperti yang dilakukan PT PRIA. Bahkan yang didumping atau dibuang, juga masuk dalam kategori terkelola. Walaupun agak aneh tapi ya beginilah peraturannya,” ucapnya sambil tertawa.

Yuyun mengungkapkan bahwa di seluruh Indonesia, ada 14 perusahaan yang berfungsi sebagai pengelola limbah seperti PT PRIA.

“Sejauh ini yang paling sering disebutkan adalah PT PRIA. Tapi bukan berarti yang lain tidak bermasalah. Seperti yang di Tegal. Hanya belum dilakukan pendalaman. Dan tidak pernah ada report untuk kinerja mereka. Jika melakukan kesalahan pun, paling mereka hanya didenda atau di-suspend selama enam bulan. Karena tidak ada lagi perusahaan yang mengelola limbah B3 ini,” tuturnya.

Limbah yang ditimbun ini, berpotensi akan masuk ke dalam aliran air tanah, yang akhirnya akan mengontaminasi sumur warga.

“Racun limbah B3 ini bisa berupa uap yang masuk lewat mata atau dihirup melalui hidung dan yang berupa cairan itu bisa tertelan secara tidak sengaja atau terabsorpsi oleh kulit. Bisa juga melalui padatan, lebih cenderung melalui uap dan cairan,” ungkap Yuyun.

Racun ini akan dapat mempengaruhi tubuh manusia misalnya pada paru-paru, saluran tenggorokan atau ginjal. Yang semuanya bergantung pada daya imun tubuh seseorang dan usia.

“Anak-anak biasanya lebih mudah terdampak dibandingkan orang dewasa. Dan untuk pengalaman Bu Sutamah sepertinya sudah kebal. Kalau pada ibu hamil, dampaknya bisa terlihat pada bayi yang lahir dengan berat badan kurang dan pada saat bertumbuh anak tersebut akan memiliki potensi yang lebih besar mendapatkan gangguan kesehatan,” tandasnya.

Salah seorang warga Lakardowo yang mengalami gatal-gatal, Zainuri menyatakan gatal yang dirasakan panas dan awalnya hanya di area kulit kecil-kecil.

Salah seorang warga Lakardowo, Zainuri menceritakan gangguan gatal dan bentol berair dalam acara online Limbah B3 Lakardowo, Rabu (28/4/2021) – Foto: Ranny Supusepa

“Tapi berselang dua hari, membesar seperti kulit terkena air panas dan keluar air warna kuning gitu,” katanya dalam kunjungan virtual di Lakardowo.

Setelah diobati, saat kering akan meninggalkan bekas seperti lapisan putih, seperti panu di kulit.

“Kalau orang bilang sih karena air. Tapi, saya ingat sebelum gatal di tangan ini parah, saya habis panen padi di sawah. Memang tegalan sawah saya itu, sekitar 200 meter dari pabrik,” paparnya.

Pihak medis puskesmas, ujarnya, tidak menanyakan apa yang menyebabkan gatal. Hanya menanyakan apakah memiliki riwayat alergi atau tidak.

“Saat ini, gatalnya tidak terlalu berasa. Karena sedang musim hujan. Tapi kalau nanti di kemarau, biasanya kambuh. Ya paling nanti minum obat saja, biar tidak terlalu gatal,” pungkasnya.

Lihat juga...