Harga Jual Kopi Leworook Asal Flotim Terus Meningkat

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LARANTUKA — Kopi Leworook, sebuah merek kopi yang berasal dari Kampung Leworook, Desa Leraboleng, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mengalami peningkatan harga.

Petani kopi di Kampung Leworook, Desa Leraboleng, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, NTT saat ditemui di kampungnya, Senin (5/4/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Sekarang harga jual kopi biji dari tempat kami, Leworook mencapai Rp30 ribu per kilogram yang sudah siap digoreng,” sebut Dominikus Kebirung Oyan warga Kampung Leworook, Desa Leraboleng, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, NTT saat ditemui di kampungnya, Senin (5/4/2021).

Dominikus menyebutkan, dahulu kopi Leworook hanya dijual di pasar tradisional dengan harga Rp2.500 per kilogram di 2000-an dan meningkat menjadi Rp10 ribu per kilogram di tahun 2015.

Dirinya mengaku bersyukur dengan meningkatnya harga jual kopi sehingga petani mulai giat lagi memelihara tanaman kopi di kebunnya yang rata-rata berumur 30 tahun.

“Saya mempunyai 3 kebun yang ditanami kopi dan juga tanaman perkebunan lainnya. Saya juga membuka kebun di lahan baru yang khusus ditanami kopi,” ujarnya.

Dominikus katakan, di Kabupaten Flores Timur hanya beberapa daerah saja menanam kopi sehingga prospek ke depannya bagus dan harga jual pasti meningkat.

Disebutkannya, kopi hanya dipetik dari pohon hanya yang sudah matang saja dan sangat sulit karena terkadang banyak semut hitam di setiap rantingnya.

“Kalau kopi Arabika matangnya tidak serempak.Tetapi kopi Robusta sekali matang semuanya dalam satu ranting matang, karena waktu berbunga serempak dan setelah panen kami menjemurnya di kebun,” terangnya.

Petani milenial Yosef Lawe Oyan mengakui, saat pulang merantau dari Yogyakarta dan bersama sang isteri mengujungi Kampung Leworook, keduanya trenyuh melihat harga jual kopi yang rendah.

Yolan sapaaannya mengakui, di tahun 2014 harga jual Kopi Leworook mencapai Rp10 ribu per kilogram di pasar namun petani juga kesulitan menjualnya karena harga jual kopi pabrikan jauh lebih murah.

“Saya bersama isteri mulai memproses kopi secara tradisional hingga menjadi kopi bubuk. Kami kemas secara tradisional dan dijual dikios-kios hingga membuat kemasan modern dan dijual di minimarket dan internet,” ucapnya.

Yolan mengakui, berkat perjuangannya harga jual kopi Leworook baik jenis robusta maupun arabika terus mengalami peningkatan.

Dia sebutkan, di tahun 2021 harga jualnya telah mencapai Rp30 ribu per kilogramnya.

“Awalnya menjual dengan harga Rp10 ribu per bungkus dengan kemasan 200 gram di tahun 2015 dan kini dengan kemasan yang sama harganya mencapai Rp20 ribu,” pungkasnya.

Lihat juga...