Lebaran CDN

Harga Komiditi Hortikultura di Sikka Relatif Bagus

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Harga jual komoditi hortikultura di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) cenderung stabil dan masih menguntungkan bagi para petani di daerah ini.

Petani hortikultura di Kabupaten Sikka, NTT, Yance Maring saat ditemui di kebun miliknya di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kamis (29/4/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Kami lakukan survey pasar ternyata harga jual komoditi hortikultura di kabupaten Sikka masih bagus dan menguntungkan petani,” kata Yance Maring, petani hortiklutura di Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui di kebun hortikluturanya di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kamis (29/4/2021).

Yance mengatakan, ada beberapa jenis komiditi yang coba disurvey harganya di pasar sejak Januari hingga April 2021 dan didapati harga jualnya cenderung stabil dan tergolong menguntungkan buat petani.

Dia mencontohkan, cabe merah besar yang pada Maret 2021 masih di Rp70 ribu per kilogramnya tetapi 12 April harganya meningkat menjadi Rp80 ribu per kilogramnya.

Ia katakan, puncaknya di 19 April 2021 harga cabe merah besar naik menjadi Rp113 ribu per kilogramnya.

“Cabe merah keriting juga sama. Pada 12 Arpil 2021 harganya Rp80 ribu per kilogram dan 19 April 2021 menurun menjadi Rp60 ribu per kilogramnya,” ungkapnya.

Yance menyebutkan, rata-rata semua komoditi hortikultura harganya berkisar antara Rp30 ribu per kilogram hingga Rp100 ribu per kilogramnya.

Disebutkan, meskipun harga jualnya turun namun rata-rata masih di atas harga produksi sehingga para petani hortikultura tetap memperoleh keuntungan.

Dirinya mencontohkan, tomat yang kadang dijual dengan harga Rp5 ribu per kilogramnya tapi petani masih untung sebab biaya produksinya satu pohon Rp2 ribu.

“Kita harus melakukan survey harga pasar lokal atau tradisional, modern, hotel dan restoran terlebih dahulu sebelum menanam dan menjualnya.Ini penting karena harga komoditi cenderung naik dan turun tergantung stok di pasar,” ungkapnya.

Yance menyebutkan, pedagang pengepul terbesar di Pulau Flores ada di Kabupaten Sikka dimana semua produk hortikultura dari Sulawesi, Jawa, dan Bima NTB semuanya masuk ke Kabupaten Sikka baru dikirim ke kabupaten lainnya.

Dia mengakui, harga komoditi hortikultura akan meningkat sejak Desember hingga Maret atau April saat terjadi cuaca buruk yang mengakibatkan kapal dari luar Flores tidak bisa merapat.

“Pada bulan-bulan tersebut harga produk hortikultura cenderung meningkat sebab produk hortikultura dari luar tidak bisa merambah pasar. Stok di pasar pun terbatas sebab banyak petani juga sibuk menanam padi dan jagung untuk konsumsi pribadi,” ungkapnya.

Staf Ahli Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Samsul Widodo menyebutkan, sistem pertanian irigasi tetes sangat bagus untuk pengembangan hortikultura di wilayah seperti NTT.

Samsul mengatakan, pihaknya mengajak Kemenko Perekonomian agar memperhatikan Flores dan NTT dan membantu pengembangan hortikultura di wilayah ini.

Samsul berharap agar petani di Pulau Flores bisa memasok kebutuhan hortikultura di Flores dan NTT terutama untuk kebutuhan hotel dan restoran serta bisa juga dikirim ke luar daerah.

“Yance Maring mengembangkan sistem irigasi tetes metode Smart Farming dan sangat cocok diterapkan di NTT terlebih untuk tanaman hortikultura. Saya mengharapkan teknologi yang digunakan ini bisa berkembang dan dipergunakan di wilayah lainnya,” harapnya.

Lihat juga...