Lebaran CDN

Indonesia Harus Cegah Serbuan Impor Daging Ayam Dunia

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Syailendra, pada webinar tentang Peternakan dan Masalah Pakan di Jakarta yang diikuti Cendana News, Senin (26/4/2021). foto: Sri Sugiarti

JAKARTA — Mencegah serbuan impor daging ayam dunia, maka industri perunggasan harus efisiensi dalam produksinya. Masalah bibit dan pakan juga harus diperhitungkan.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Syailendra mengatakan, banyak produsen ayam di dunia yang mengincar pasar Indonesia. Namun bisa dicegah karena kekuatan produksi dalam negeri sangat mencukupi.

Adapun khusus sengketa dengan negara Brazil, kata dia, pemerintah Indonesia saat ini terus melakukan banding. Langkah ini bertujuan agar impor ayam dari negara tersebut bisa ditunda.

“Saat ini, kita sedang tahap banding, agar impor ayam Brazil bisa ditunda. Tapi ya kalau kita diserang impor terus, tentu 1-2 tahun bisa rontok kita,” ujar Syailendra, pada webinar tentang Peternakan dan Masalah Pakan di Jakarta yang diikuti Cendana News, Senin (26/4/2021).

Pada kesempatan ini, dia menegaskan, yang dapat menghadapi tantangan kedepan melawan serbuan impor ayam adalah industri perunggasan sendiri. Dalam hal ini, industri di Indonesia harus lebih efisiensi produksi.

“Yakni, mulai dari bibit ayam hingga pakan. Ini mau tidak mau harus dilakukan oleh industri perunggasan,” tukasnya.

Efesiensi pakan, tentu kata dia, ini berkaitan erat dengan biaya pakan yang berkontribusi 60 persen terhadap harga ayam, harus terus diturunkan. Hal ini dapat dilakukan dengan mencari alternatif-alternatif bahan baku pakan. Sehingga tidak tergantung pada satu bahan saja yang rentan mengalami fluktuasi harga.

Ia mencontohkan, jagung yang saat ini harganya naik, bisa diganti dengan sorgum atau lainnya.

“Memang butuh waktu dalam efisiensi pakan ini, dari jagung diganti sorgum, misalnya,” pungkasnya.

Lebih lanjut dia menyebut bahwa kenaikan harga daging ayam dan pakan ternak pada dasarnya dipengaruhi oleh kenaikan harga jagung. Yakni kontribusinya sekitar 40-50 persen terhadap pembentukan harga pakan unggas.

Berdasarkan laporan di Sistem Sijagung rata rata harga jagung dengan kadar air 15 persen di pabrik pakan. Yaitu pada Maret 2021 sebesar Rp 4.772/kg.

“Harga ini meningkat sekitar 6.46 persen dibandingkan Februari 2021. Yakni, sekitar Rp 4.483 per kilogram dan meningkat sebesar 5,92 persen. Jika dibanding Maret 2020 yakni senilai Rp4.506 per kilo gram,” urainya.

Sedangkan harga acuan pemerintah sesuai Permendag Nomor 07 Tahun 2020 tentang harga acuan pembelian di tingkat petani dan harga acuan penjualan di tingkat konsumen adalah Rp 4.500 per kilogram.

“Harga ini yang paling tinggi per kilogram untuk kadar air 15 persen di tingkat di konsumen,” pungkasnya.

Lihat juga...