Lebaran CDN

Ini Kunci Sukses Merintis Usaha ‘Clothing Line’

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Usaha clothing line atau busana, kian diminati para anak muda. Namun, meski terkesan mudah, ternyata membuka clothing line tidak sesederhana yang dibayangkan.

Tak jarang, bagi mereka yang kurang persiapan, usaha yang dirintis pun tumbang dengan mudah. Apalagi dalam konsep tersebut, semua dikerjakan sendiri, mulai dari pembuatan desain, produksi hingga pemasaran.

“Memang tidak mudah untuk bergerak di bidang clothing line, apalagi saat ini ada banyak brand yang tumbuh, sehingga persaingan juga ketat. Untuk itu, ada beberapa hal perlu kita diperhatikan sebelum merintis usaha ini,” papar Sebastian Gary, pemilik usaha clothing line Prigel, saat ditemui di Semarang, Selasa (13/4/2021).

Sebastian Gary, pemilik usaha clothing line Prigel, saat ditemui di Semarang, Selasa (13/4/2021). Foto: Arixc Ardana

Menurutnya, jika ingin terjun di bisnis tersebut, harus memiliki passion atau minat dan konsistensi.

“Memang harus punya minat dulu, lalu konsisten, sebab membangun usaha tersebut butuh proses dan waktu. Tidak bisa instan,” papar pria yang berlatar belakang sebagai seniman mural tersebut.

Kunci lainnya, dalam usaha tersebut, yakni mampu melihat tren dan minat konsumen, yang lebih banyak menyasar anak muda.

“Kekuatan clothing line itu terletak dari kemampuan melihat tren, ini modal utama, karena selera pembeli terus berganti. Itu sebabnya, produk yang diproduksi oleh clothing line terbatas, tidak massal, karena tren terus berubah,” lanjutnya.

Di satu sisi, setiap brand harus memiliki ciri khas tersendiri, sehingga menjadi karakter yang berbeda dengan merek lain.

“Desain keren, bahan yang dipakai bagus, namun tidak didukung pemasaran yang bagus juga percuma. Untuk itu, pemasaran juga perlu diperhatikan. Saling mengenal bisa lewat media sosial, karena sasaran kita banyak ke anak muda, yang sebagian besar mereka lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial,” ungkapnya.

Meski demikian, toko offline juga diperlukan agar konsumen bisa mengecek langsung kualitas produk yang dijual.

“Saya ada toko di kawasan Banjarsari Tembalang Semarang, namun karena saat ini masih pandemi, jadi dibatasi. Jadi penjualan seluruhnya lewat online, namun adanya toko offline ini tetap penting. Kita bisa memanfaatkan di rumah, kosan atau kontrakan,” tambahnya.

Di lain sisi, Gary juga mendorong adanya penguatan brand atau merek, agar semakin dikenal oleh konsumen.

Image merek ini juga penting, untuk menumbuhkan kepercayaan konsumen. Misalnya jika kita beli merek ini, sudah pasti kualitasnya bagus, desainnya menarik dan tidak pasaran. Image ini yang perlu dibangun, agar semakin luas,” ungkapnya.

Dalam upaya membangun image tersebut, bisa dilakukan lewat bermacam cara. Mulai dari pameran, menggunakan influencer, hingga menjalin kerjasama dengan pihak lainnya.

“Paling mudah tentu lewat media sosial. Bisa menggandeng influencer, bisa saja dari jalinan pertemanan agar produk kita bisa semakin dikenal. Dapat juga bekerjasama dengan pihak ketiga,” lanjutnya.

Dirinya mencontohkan produk clothing line yang dirintisnya, saat ini bekerjasama dengan salah produsen satu minuman serbuk asal Semarang, yang sudah memiliki nama di tingkat nasional. Lewat kerjasama tersebut, dirinya berharap usaha tersebut bisa semakin dikenal luas, hingga kancah nasional.

“Memang untuk bisa mencapai tahap kerjasama ini, perlu tahapan sehingga produk kita bisa dipercaya. Meski butuh waktu, bukan berarti tidak bisa. Untuk itu, perlu konsistensi dalam menjaga kualitas produk dan kepercayaan konsumen,” papar pria yang memulai usaha sejak tahun 2012 tersebut.

Terpisah, hal senada juga disampaikan Aditya. Menurutnya, untuk memulai usaha clothing line relatif mudah, namun agar bisa tetap bertahan di industri tersebut, membutuhkan konsistensi dan kreativitas.

“Pangsa pasar clothing line ini rata-rata anak muda. Tren di kalangan mereka ini cepat sekali berganti, jadi kita mesti jeli melihat tren yang berkembang dan digemari, tanpa meninggalkan identitas brand yang kita miliki,” papar pemilik clothing line Harajuku tersebut.

Dirinya mencontohkan, pada awal-awal tren clothing line ala Jepang, menyasar ke figur animasi, kemudian berkembang ke gaya sehari-hari yang simpel.

“Tren selalu berkembang, jadi kita mesti jeli untuk melihat perkembangan pasar agar mampu bertahan, di tengah booming usaha clothing line,” pungkasnya.

Lihat juga...