Lebaran CDN

Ini Manfaat Kenikir sebagai Tanaman Refugia

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Tanaman kenikir, yang banyak ditanam sebagai penghias pagar rumah, rupanya memiliki banyak manfaat, di luar fungsinya untuk mempercantik lingkungan sekitar.

Daun kenikir yang kerap disantap sebagai lalapan, dipercaya memiliki banyak khasiat sebagai tanaman obat seperti hipertensi hingga diabetes. Sementara, bunga kenikir yang memiliki beragam warna, seperti kuning, hingga merah muda, rupanya bisa digunakan sebagai refugia.

“Refugia merupakan berbagai jenis tumbuhan atau tanaman, yang dapat mengundang dan menyediakan musuh alami seperti predator dan parasitoid sebagai mikrohabitatnya, dengan harapan bisa mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) secara alami,” papar pegiat Sekolah Berkebun Ceria (SBC) Wahyu Aditya Yunanto, saat dihubungi di Semarang, Rabu (28/4/2021).

Pegiat Sekolah Berkebun Ceria (SBC), Wahyu Aditya Yunanto, saat dihubungi di Semarang, Rabu (28/4/2021). Foto: Arixc Ardana

Secara mudah, tanaman refugia dimanfaatkan untuk menarik OPT, agar hidup di tanaman tersebut dan tidak menyerang tanaman yang dibudidayakan.

“Misalnya kupu-kupu, jika bertelur di tanaman yang dibudidayakan, maka telur yang berubah menjadi ulat akan memakan daun dari tanaman tersebut. Jika kemudian di sekitar tanaman budidaya ditanami refugia, kupu-kupu tersebut diharapkan akan bersarang di refugia tersebut,” terangnya.

Wahyu mencontohkan, tanaman kenikir, yang memiliki sifat racun pada daunnya, ketika ulat memakan daun tanaman tersebut, ulat akan mati.

“Jadi ini bisa digunakan sebagai pengendali OPT secara alami,” jelasnya.

Dijelaskan, macam tanaman refugia cukup banyak, mulai dari tanaman hias, sayuran, gulma bahkan dari jenis tanaman liar.

“Misalnya bunga matahari, bunga kertas dan bunga kenikir. Jenis tanaman hias berbunga ini, selain dapat berfungsi sebagai rumah bagi predator alami, juga memberikan kesan indah pada lingkungan. Jadi bisa juga ditanam di sekitar rumah,” ungkapnya.

Ada juga tanaman refugia yang tumbuh alami atau liar, seperti bunga legetan, pegagan, rumput setaria, rumput kancing ungu, dan kacang hias atau kacang pentoi.

Di satu sisi, untuk memaksimalkan fungsi tanaman refugia tersebut, ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Termasuk tata cara penanaman yang tepat, agar tanaman refugia tersebut tidak merugikan tanaman utama.

“Waktu tanam refugia, sebaiknya ditanam sebelum tanaman utama agar dapat dimanfaatkan sebagai tempat berlindung dan berkembang baik, bagi musuh alami dan serangga polinasi. Selain itu, penanaman refugia diusahakan sejajar dengan sinar matahari, sehingga tidak menutupi atau mengganggu penyerapan sinar matahari bagi tanaman yang dibudidayakan,” tandasnya.

Sementara, Kepala UPTD Kebun Bibit Dinas Pertanian Kota Semarang, Juli Kurniawan, saat dihubungi secara terpisah, juga mendorong pemanfaatan tanaman refugia ini, sebagai bagian dari pengendalian OPT secara alami.

“Pemanfaatan tanaman refugia ini, bisa sejalan dengan tingginya minat berkebun atau bertani masyarakat di Kota Semarang. Untuk melindungi berbagai tanaman yang dibudidayakan, seperti sayur mayur hingga tanaman hias, bisa menggunakan refugia,” terangnya.

Cara ini selain ramah lingkungan, juga lebih memudahkan masyarakat dalam melakukan pengendalian OPT.

“Misalnya dilakukan penanaman refugia dengan ditempatkan di pinggiran tanaman sayuran, seperti cabai, tomat, terong dan lainnya. Harapannya, hama tanaman yang kerap menyerang, bisa tertahan di refugia ini, penggunaan pestisida pun bisa dikurangi,” pungkasnya.

Lihat juga...