Lebaran CDN

Ini Umur yang Tepat Bagi Anak untuk Berpuasa

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Spesialis Anak Mayapada Hospital Bogor, dr. Felliyani, SpA, menjelaskan skema puasa pada anak-anak, saat dihubungi, Jumat malam (23/4/2021) - Foto Ranny Supusepa

BOGOR — Anak yang mampu berpuasa secara penuh, tentunya membanggakan bagi orang tua. Tapi, pada umur berapakah seorang anak dianggap mampu berpuasa? Apa yang mereka butuhkan dalam masa berpuasa?

Spesialis Anak Mayapada Hospital Bogor, dr. Felliyani, SpA menjelaskan, secara agama Islam, kewajiban puasa pada anak itu dimulai pada masa akil baliq. Yaitu pada anak perempuan, saat sudah menstruasi, umumnya antara 10-11 tahun dan bagi anak laki-laki, saat sudah mendapatkan mimpi basah, umumnya antara 11-12 tahun.

Tapi memang perlu dilatih dari umur 7 tahun. Baik memulainya dengan puasa penuh satu hari penuh atau hanya setengah hari.

“Patokan ini sejalan dengan pendapat pakar kesehatan anak. Dimana, pada umur 7 tahun, anak-anak sudah memahami makna puasa dan juga sudah bisa diajarkan tentang disiplin puasa, baik mengenai waktu sahur maupun kegiatan yang tidak mengganggu kegiatan puasanya,” kata dr. Felli saat dihubungi, Jumat malam (23/4/2021).

Selain itu, lanjutnya, anak yang berumur 7 tahun sudah mengerti cara bersosialisasi dan cara berfikirnya sudah lebih maju.

Secara fisiologis, anak 7 tahun memang sudah bisa berpuasa dari subuh hingga maghrib. Dimana, glukosa yang berasal dari karbohidrat berlebih, protein berlebih dan lemak berlebih yang disimpan dalam tubuh akan menjadi cadangan energi saat berpuasa. Karena makanan yang dimakan saat sahur, maka energinya akan cukup sekitar 4 jam. Sisanya, akan memanfaatkan cadangan energi tubuh, yang mampu menyokong kebutuhan energi untuk 12 jam.

“Jadi bisa dikatakan, dengan rentang waktu puasa di Indonesia yang rerata sekitar 12 jam, seorang anak mulai umur 7 tahun dengan kondisi kesehatan baik dan memiliki kecukupan gizi cukup mampu untuk berpuasa sehari penuh,” ucapnya.

Semakin bertambah umur anak, maka masa penyediaan energi ini akan bertambah pula.

“Anak akil baliq tentunya memiliki ketersediaan cadangan energi yang lebih panjang dibandingkan anak yang lebih muda. Sehingga mereka tentunya akan lebih kuat berpuasa. Selama kondisi kesehatannya baik,” yang ucapnya lebih lanjut.

Kesiapan anak juga tergantung bagaimana orang tua bisa melatih anak untuk berpuasa secara bertahap.

“Untuk anak yang dibawah 7 tahun, cadangan energinya belum sepanjang anak umur 7 tahun. Jadi bisa saja diberlakukan, buka di saat makan siang. Nanti mau dilanjutkan atau tidak ya terserah pada anaknya. Jangan dipaksakan,” kata dr. Felli.

Ia menekankan bahwa sangat penting bagi anak-anak untuk sahur pada waktu mendekati azan subuh.

“Misalnya, sekarang kan azan subuh itu sekitar jam setengah 5 untuk wilayah Bogor. Artinya anak-anak dibangunkan untuk makan sahur itu sekitar jam 4 kurang seperempat. Atau kalau yang makannya bisa cepat boleh jam 4. Sehingga minum terakhir itu, sangat dekat dengan waktu azan,” paparnya.

Selama masa sahur atau berbuka, upayakan anak untuk selalu mendapatkan asupan dengan nutrisi yang bisa menjamin kecukupan gizinya.

“Tentunya, yang biasa dimakan oleh anak dan bervariasi. Baik jenis makanannya juga memasaknya. Pastikan sayur dan buah selalu ada dalam menu anak dan proteinnya lebih banyak. Karena sedang masa pertumbuhan,” paparnya lebih lanjut.

Sebagai contoh, seorang anak berumur 8 tahun yang memiliki berat badan 24 kg, akan membutuhkan serat 12 gram per hari.

“Kalau diterjemahkan dalam bentuk makanan, pir, apel dan jeruk itu sekitar 4 gram, brokoli atau bayam secangkir itu sekitar 1-2 gram. Tinggal dihitung saja, untuk memenuhi kecukupan 12 gram serat itu, apa yang harus dikonsumsi anak selama berbuka, makan malam maupun sahur,” ujarnya menjelaskan.

Saat berbuka, harus disediakan makanan yang memiliki indeks glikemik tinggi, untuk meningkatkan gula darah secara cepat.

“Penting untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan susu setelah ibadah tarawih dan saat sahur. Karena susu ini termasuk yang lama diprosesnya sehingga menimbulkan rasa kenyang lama,” tuturnya.

Sementara untuk sahur sebaiknya disiapkan makanan dengan indeks glikemik sedang hingga rendah, makanan dengan kandungan serat tinggi dan protein.

“Untuk memastikan anak tidak cepat merasa lapar. Karena ketiga jenis makanan itu tidak langsung diproses oleh tubuh,” kata dr. Felli lebih lanjut.

Yang paling penting, selama puasa, asupan cairan juga harus dikontrol untuk menghindari kekurangan cairan.

“Contohnya, untuk anak sekitar 20 kg, itu membutuhkan 5 gelas cairan atau setara dengan 1.250 ml. Ini bisa diatur sepanjang buka hingga sahur. Atau kalau 40 kg ke atas, kebutuhannya sekitar 7-8 gelas,” pungkasnya.

Lihat juga...