Jambi Antisipasi Lonjakan Harga Daging Sapi Jelang Ramadan

JAMBI – Satuan Tugas (Satgas) Pangan Provinsi Jambi mengantisipasi lonjakan harga daging sapi menjelang Ramadan, yang diprediksi bisa menembus Rp150 ribu per kilogram, sedangkan dua pekan sebelum puasa Rp130 ribu per kilogram.

Tim Satgas Pangan Provinsi Jambi inspeksi mendadak ke Pasar Angso Duo Jambi, Kamis, terkait kesiapan memasuki Bulan Suci Ramadan dan Idulfitri 1442 Hijriah.

Ketua Satgas Pangan Provinsi Jambi, Sudirman, menilai harga bahan pangan masih tergolong normal, namun ada satu yang menjadi fokus pada inspeksi tersebut dan perlu diantisipasi, yakni mengenai harga daging segar.

“Memang dari lima hari lalu di posisi Rp130 ribu per kilogramnya,” katanya.

Dia menjelaskan, memasuki Ramadan, biasanya harga daging segar melonjak hingga Rp150 ribu per kilogram. “Namun menjadi kewaspadaan kita, yakni mengenai stok daging segar, karena kemungkinan stok daging segar kita akan berkurang, dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” katanya.

Ia menjelaskan, kenaikan harga tersebut karena ada upaya peternak sapi yang mengerem distribusi daging segar dari peternak ke pasar.

“Temuan kita hari ini akan kita laporkan kepada Ibu Gubernur, supaya ada tindak lanjut ke depan,” katanya.

Untuk sapi, Provinsi Jambi disuplai dari daerah tetangga, yakni Provinsi Lampung, karena harga di Jambi lebih tinggi dibandingkan dengan sapi dari Lampung.

“Mungkin kita akan koordinasikan dengan kabupaten, Dinas Peternakan, agar lebih cepat disikapi dan bila stok dari Lampung kurang, mungkin suplai dari kabupaten juga sangat penting, untuk bisa menjadi penyeimbang agar harganya tidak terlalu tinggi,” kata dia.

Ia mengatakan, tidak ada masalah dengan stok daging beku, namun saat ini masyarakat lebih menyukai daging segar.

Anggota Satgas Pangan Jambi dari unsur perwakilan Polda Jambi, AKBP Yuyan Priatmaja, mendukung kegiatan satgas mengantisipasi lonjakan harga di pasar menjelang Bulan Puasa dan Lebaran.

“Kami dari kepolisian juga akan menjalankan peran sebagai penegak hukum. Jika ada para agen atau pedagang yang tetap ‘nakal’ akan kita peringatkan lebih dahulu demi ketersediaan, kelancaran, kestabilan bahan pangan di pasaran, namun bila masih tetap tidak peduli, penegakan hukum sebagai upaya terakhir,” katanya. (Ant)

Lihat juga...