Lebaran CDN

Kelurahan Pesanggrahan Lakukan Pengolahan Sampah Bersistem Maggot

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Untuk mengurangi volume sampah organik, Satuan Pelaksana Suku Dinas Lingkungan Hidup (Satpel Sudin LH), Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan melakukan pengolahan sampah dengan sistem Maggot.

Pengawas Satpel Sudin LH Kecamatan Pesanggrahan, Hasan Basarudin mengatakan, sampah organik menyumbang setengah dari komposisi sampah di Jakarta. Yakni, sebanyak 53 persen sampah di Jakarta merupakan sampah organik.

Pengawas Satuan Pelaksana Suku Dinas Lingkungan Hidup (Satpel Sudin LH) Kecamatan Pesanggrahan, Hasan Basarudin, ditemui di area pengolahan maggot di Asrama LH, di Kecamatan Pasanggrahan, Jakarta Selatan, Rabu (21/4/2021). Foto: Sri Sugiarti.

Dalam upaya mengurangi volume sampah organik yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gerbang, Bekasi, Jawa Barat, pihaknya melakukan pengolahan sampah dengan sistem Maggot.

“Maggot ini bisa jadi solusi pengurangan sampah organik karena tidak ada yang terbuang,” ujar Hasan, kepada Cendana News, Rabu (21/9/2021).

Dikatakan dia, sejak berbentuk telur lalat, maggot membutuhkan sampah organik untuk tumbuh selama 25 hari dan siap dipanen. Sedangkan siklus dari larva menjadi maggot hingga menjadi pupa membutuhkan waktu sekitar 40 sampai 44 hari.

Maggot ini jelas dia, merupakan larva serangga Black Soldier Flies (BSF) yang dapat mengubah material organik menjadi biomassanya.

Dan lalat ini berbeda dari jenis lalat biasa, karena larva yang dihasilkan bukan larva yang menjadi medium penyakit.

Namun dengan konsumsi sampah organik oleh maggot ini. Maka kata dia, 1 kilogram maggot bisa memangkas 2 hingga 5 kilogram sampah organik setiap harinya. Sehingga jumlah ini bisa membantu pengurangan sampah organik di Jakarta secara signifikan.

Maggot ini mempunyai kemampuan mengurai sampah organik 1-3 kali dari bobot tubuhnya selama 24 jam. Bahkan, bisa sampai 5 kali bobot tubuhnya.

Kemudian, tambahnya, setelah maggot mati, bangkai maggot bisa digunakan sebagai pakan ternak. Bahkan kepompong maggot bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Sehingga tidak menimbulkan sampah baru.

Dikatakan dia lagi, pengolahan sampah dengan sistem maggot ini telah dilakukan sejak Juli 2020 lalu di atas lahan seluas 300 meter di asrama Lingkungan Hidup Kecamatan Pesanggrahan. Dengan menempatkan maggot pada empat wadah yang masing masing luasnya 5×7 meter.

Ke depan, pihaknya akan mengembangkan pengolahan maggot ini di setiap Rukun Warga (RW). Karena menurutnya, pengolahan maggot ini dapat mengurangi volume sampah organik dari lingkungan warga hingga 90 persen.

Sisanya, sampah organik seperti daun, kulit buah, rumput, sayuran, ranting dan lainnya diolah untuk pupuk kompos yang digunakan untuk menyuburkan tanaman.

“Untuk satu hari pakan maggot ini dapat mengurangi sampah organik 300-400 kilogram,” pungkasnya.

Lihat juga...