Lebaran CDN

Kemasan Makanan Ramah Lingkungan Kurangi Sampah Plastik

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Memasuki bulan Ramadan potensi usaha makanan kemasan untuk menu berbuka puasa (takjil) menjamur dimana-mana. Namun kemasan makanan didominasi plastik mika, gelas plastik, kantong plastik menyebabkan sampah menjadi salah satu permasalahan. 

Menyikapi hal tersebut, beberapa pedagang mulai melirik penggunaan kantong belanja ramah lingkungan.  Nonvianti, warga Bumiwaras, Telukbetung, Bandarlampung memilih memakai kempis atau keranjang dari anyaman rotan. Memiliki sifat kuat, awet penggunaan kantong rotan bisa dipergunakan berkali kali.

Kecenderungan saat belanja sebut Nonvianti kemasan plastik masih digunakan. Sebagian kantong plastik tak berbayar akan menjadi sampah domestik rumah tangga. Memakai kantong ramah lingkungan juga diiringi pembelian produk makanan berkemasan daun.

“Sampah dari proses pemilahan sayuran, buah dan kemasan daun yang tidak terpakai bisa digunakan sebagai pupuk,” terang Nonvianti saat ditemui Cendana News, Rabu (21/4/2021).

Nonvianti bilang sampah plastik yang digunakan kerap hanya dibuang. Karena sulit terurai pembuangan dilakukan sebagai pilihan akhir.

Baharudin, pedagang di pasar Gudang Lelang menyebut kemasan makanan dominan memakai plastik. Namun ia tetap masih memanfaatkan kemasan, wadah ramah lingkungan meliputi daun pisang, daun jati, keranjang rotan dan keranjang bambu.

“Pedagang juga punya keinginan mengurangi plastik namun dominan kemasan makanan tidak terhindarkan dari plastik,” tegasnya.

Sejumlah kotak sampah sebutnya telah disediakan untuk menampung plastik. Jenis kemasan makanan berupa kardus, kertas dan botol bernilai jual kerap dikumpulkan pedagang. Setiap pekan akan ada pengepul mengambil kemasan yang bisa didaur ulang.

Membuang, mengelola sampah plastik terus dilakukan untuk mereduksi sampah. Demikian diungkapkan Nurahmat, ketua komunitas Sungai Way Bakau, Kampung Baru Tiga (Kabarti), Kelurahan Panjang Utara, Kecamatan Panjang. Pengelolaan dilakukan bengkel ecobrick yang dilakukan warga dengan sistem kelompok.

Baharudin (kanan) menggunakan daun pisang, keranjang bambu untuk wadah bumbu di pasar Gudang Lelang, Telukbetung, Bandarlampung, Rabu (21/4/2021). Foto: Henk Widi

Pengurangan sampah plastik sebutnya bisa dilakukan dengan menggencarkan kantong belanja, kemasan makanan ramah lingkungan.

“Faktor penyebab volume sampah plastik meningkat karena minim daur ulang, warga masih memakai kantong plastik sekali pakai,” sebutnya.

Saat Ramadan dengan maraknya penjual takjil, pengurangan sampah plastik bisa dilakukan. Pemakaian kemasan dari daun bisa jadi alternatif agar sampah lebih mudah terurai.

Pemilihan kemasan makanan berbahan ramah lingkungan jadi pilihan bagi Yohana. Warga Kelurahan Sukakadanaham, Tanjungkarang Barat itu membuat pepes, kue dengan daun pisang. Cara itu digunakan agar sampah yang dihasilkan mudah terurai saat dibuang.

Saat berbelanja di pasar tradisional, Yohana mengaku masih memakai kantong belanja dari rumah. Ia bahkan mengurangi penggunaan kantong plastik agar tidak banyak sampah dibuang. Mengurangi sampah plastik sebutnya jadi cara agar ia bisa ikut menjaga lingkungan.

Lihat juga...