Lebaran CDN

Kemristek/BRIN Dorong Percepatan Riset dan Inovasi Berbasis Kolaborasi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kemristek/BRIN terus mendorong dilakukannya riset dan inovasi yang berbasis teknologi dan kolaborasi antara pelaku usaha, industri, lembaga litbang dan perguruan tinggi. Percepatan melalui pemberian fasilitas fiskal ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sesmen Ristek/BRIN, Mego Pinandito, menyatakan, insentif super tax deduction menunjukkan upaya keras Kemristek/BRIN dalam mendorong aspek riset dan penelitian nasional.

“Sinergi kementerian ini sebagai upaya untuk mendukung percepatan kegiatan riset dan inovasi untuk menciptakan sesuatu yang konkret dan produk komersial yang memiliki nilai jual. Ini sesuai dengan visi Indonesia Emas 2045, dengan memperkuat pembangunan oleh semua pihak yang berbasis inovasi sekaligus berkualitas dan berkelanjutan,” kata Mego dalam Sosialisasi PMK Nomor 153 Tahun 2020, yang disiarkan online dari Kemristek/BRIN Jakarta, Kamis (22/4/2021).

Ia menyatakan bahwa sumber daya alam berlimpah yang dimiliki Indonesia tidak cukup tanpa diolah dengan menggunakan teknologi dan pengetahuan.

“Keikutsertaan dari semua pelaku usaha dan juga masyarakat, akan menjadikan pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan industri manufaktur berbasis inovasi,” ucapnya.

Secara khusus tujuan pemberian fasilitas fiskal untuk Litbang ini adalah untuk meningkatkan anggaran riset nasional yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kontribusi swasta dalam melakukan kegiatan litbang, meningkatkan daya saing industri nasional, memperkuat pertumbuhan industri berbasis teknologi dan memperluas kolaborasi antar pelaku industri dengan pengembang iptek.

“Targetnya, untuk anggaran kita harapkan peningkatan dari 0.28 persen akan menjadi 1 persen dari GDP, persentase sumber anggaran antara pemerintah dan swasta akan berubah dari 85 persen berbanding 15 persen, menjadi sama, yaitu 50 persen dan 50 persen,” paparnya.

Dan ditargetkan juga adanya peningkatan paten dan lisensi serta pertumbuhan ekonomi dari 5-6 persen menjadi 7-9 persen.

“Dengan diimplementasikannya PMK 153 ini, sumber pendanaan riset inovasi semakin baik. Sehingga inovasi iptek karya anak negeri akan benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dengan menghasilkan produk yang memiliki nilai jual dan memenuhi kebutuhan konsumen pasar. Serta melakukan penyempurnaan produk secara terus menerus tanpa melupakan pengembangan produk turunannya,” tandasnya.

Direktur Sistem Riset dan Pengembangan Kemristek/BRIN, Malikuz Zahar, menyebutkan, sosialisasi PMK Nomor 153 Tahun 2020 ini ditujukan agar para pelaku usaha dapat meningkatkan pengembangan riset dalam usaha mereka.

Direktur Sistem Riset dan Pengembangan Kemristek/BRIN Malikuz Zahar, di acara online Kemristek/BRIN Jakarta, Kamis (22/4/2021) – Foto: Ranny Supusepa

“Dari sosialisasi pertama pada November 2020 lalu, telah masuk 150 permohonan dari 14 badan usaha, yang dilakukan secara luring. Karena fasilitas OSS Litbang belum tersedia,” kata Malikuz.

Notifikasi pada permohonan yang masuk, sudah disampaikan ke Dirjen Pajak.

“Karena OSS Litbang sudah selesai pada pertengahan Maret lalu, maka pengajuan proposal dari sekitar 200 pelaku atau badan usaha yang termasuk dalam fokus lampiran PMK, dapat dilakukan hanya melalui daring,” ucapnya.

Juga undangan ini disampaikan pada pelaku litbang nasional, termasuk perguruan tinggi yang selama ini aktif melakukan litbang dan bermitra dengan industri.

“Harapannya, pasca-sosialisasi yang akan dilakukan secara berkala ini, animo pelaku usaha untuk mendanai litbang, baik yang dilakukan sendiri maupun bekerja sama dengan pihak lain akan semakin meningkat,” pungkasnya.

Lihat juga...