Ketan Bintul Khas Banten, Menu Andalan Berbuka Puasa

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SERANG – Ketan bintul atau di Bekasi lebih dikenal dengan uli, merupakan kudapan tradisional asal Serang, Banten. Ketan bintul bisa jadi menu favorit, wajib, pada acara tertentu.

Bahkan saat memasuki bulan suci Ramadan, biasanya ketan bintul banyak dicari untuk menu berbuka puasa. Sebagian besar warga Serang Banten, mempercayai bahwa ketan bintul dulu menjadi kudapan kesukaan Sultan Maulana Hasanuddin saat berbuka puasa.

“Ketan bintul di Desa Cisait ini, disebut warga kampung sebagai makanan khas, biasanya disantap dengan serundeng, atau gula merah. Ada juga menu pendamping seperti kue bugis dan lambang sari,” ungkap Maryam, warga Desa Cisait, Kragilan, Kabupaten Serang, Banten, kepada Cendana News, Sabtu (3/4/2021).

Maryam, warga Desa Cisait, Kragilan, Serang, Banten, menunjukkan ketan bintul, Sabtu (3/4/2021) – Foto: Muhammad Amin

Ketan bintul tidak berbeda dengan uli, bahan bakunya  beras ketan, kemudian dikukus bersama air santan dan garam. Setelah matang diangkat, diiris dan diletakkan di atas daun pisang.

Barulah ketan ditaburi  serundeng atau dicucul dengan gula merah cair. Tapi tentunya, tergantung selera.

Menurut Maryam, ketan bintul jika bulan suci Ramadan umumnya memang ada saat berbuka puasa, sebagai pembatal puasa bersama teh manis atau air putih sebelum warga ke masjid untuk salat berjemaah.

“Jika tidak bulan suci Ramadan, ketan biasanya ditemui saat ada hajatan tertentu, seperti ada warga desa yang bangun rumah, atau acara keagamaan syukuran atau lainnya. Ketan bintul biasanya dikelilingi kue lainnya,” ucap Maryam, warga Cisait yang masih memegang teguh budaya setempat.

Menurut Maryam pula, beberapa petak sawah petani setempat pasti menanam bahan untuk ketan putih tersebut. Biasanya setelah panen disimpan sebagai stok untuk acara tertentu. Ketan juga bisa jadi bawaan sebagai sumbangan dengan nampan yang dibungkus khusus.

Mang Ilang, warga lainnya, mengakui, bahwa ketan bintul, menjadi menu tradisi di Serang, khususnya masyarakat Banten. Menurutnya, setiap daerah bisa saja ada kuliner berbasis ketan namun namanya berbeda, bahkan cara penyajiannya berbeda-beda.

“Ada yang dibakar, jadi uli bakar kalau di daerah Jakarta. Di Banten namanya ketan bintul itu yang umumnya memang dikukus. Ada yang dihidangkan di atas daun pisang sebagai pelapis. Cara makannya pun simpel, ada yang langsung dimakan begitu saja, ada yang pakai makanan pendamping tertentu,” ujarnya mengaku lebih suka ketan bintul polos, disantap sambil minum kopi.

Lihat juga...