Lebaran CDN

Keunikan Kampung Sawah, Tiap Rumah Miliki Pohon Duku

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Sekilas saat terlihat dari jalan besar, tidak ada perkampungan di belakang Pemakaman Umum Kampung Sawah. Namun setelah makam, dari jalan raya Kampung Sawah ada tulisan Gang Kober. Kemdian persis di belakang TPU ada perkampungan asri yang masih ditumbuhi pohon dukuh berusia ratusan tahun.

Kampung Sawah di Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, menjadi saksi kejayaan perkebunan tempo dulu yang masih terawat, di wilayah yang dulu merupakan areal persawahan tersebut.

Bang Ilok, Ketua Koasi Kota Bekasi, saat berada di Kampung sawah, Minggu (25/4/2021). –Foto: M Amin

Ratusan pohon dukuh besar di sepanjang perkampungan RW 03 tersebut masih berdiri tegak dan kokoh. Uniknya, keberadaannya pun di tengah pemukiman warga, seperti halaman depan, samping dan batas rumah.

Pohon duku itu tidak ditanam warga, tapi tumbuh sendiri yang dijaga dan tetap dilestarikan secara turun temurun oleh warga setempat.

“Setidaknya masih terdapat total 338 pohon dukuh atau duku yang tetap lestari, terjaga di RW 03 usianya rata-rata di atas 70 tahun. Bahkan, ada yang usianya di atas 150 tahun,” kata Abdul Rosyid, pegiat kelestarian lingkungan di Kampung Sawah kepada Cendana News, Minggu (25/4/2021).

Dikatakan Rosyid, pohon itu adalah tumbuhan alam yang tidak ditanam oleh manusia. Menurutnya, tidak ada yang tahu pasti usia dari pohon dukuh di Kampung Sawah tersebut.

Saat ini, jika ada orang luar masuk ke Gang Kober, dan ketika tiba di belakang TPU Kampung Sawah, akan melihat kesan perkampungan yang asri layaknya di perkampungan di tengah perkotaan. Kesejukan dan suasana kampung masih lestari hingga sekarang.

“Tak jarang saat musim duku, banyak warga dari luar berdatangan. Dari 338 pohon duku yang masih ada di pemukiman warga di Kampung Sawah tersebut 85 persen masih produktif. Buahnya pun lebih manis dan menyegarkan dibanding duku biasa,”ucap Rosyid, mengaku pohon itu bisa usia panjang, kemungkinan karena dari biji yang dibawa kelelawar.

Bang Ilok, Ketua KOASI Kota Bekasi, juga sebagai warga dan besar di Kampung Sawah, mengakui duku di kampungnya tersebut memiliki kelebihan tersendiri. Buah duku tersebut terkenal lebih manis. Warnanya bukan putih, tapi lebih bening.

“Duku di Kampung Sawah berbeda dengan duku Palembang, atau duku langsat. Saking manisnya saat berbuah, biasa dimakan codot (kelelawar-red),”papar Bang Ilok.

Ia membandingkan duku di Kampung Sawah tersebut adalah jenis duku condet, yang sampai sekarang sudah dijadikan cagar buah condet yang masih memiliki perkebunan duku di wilayah Timur Jakarta, yang masih dekat dengan Kampung Sawah.

Dahulu, seluruh hamparan wilayah Condet tumbuh pohon duku, salak, hingga melinjo yang berdampingan dengan permukiman warga.

“Perkebunan itu seiring waktu berubah menjadi permukiman yang lebih padat, tapi masih menyisakan lahan khusus perkebunan. Salah satu yang masih tumbuh adalah duku. Saya perkirakan jenis duku di Kampung Sawah sama dengan duku di Condet,” tandasnya.

Lihat juga...