Kiriman Vaksin COVID-19 Pertama Yaman Datang Saat Gelombang Kedua Merebak

Botol dengan stiker bertuliskan, COVID-19 / vaksin Coronavirus / Injeksi di depan logo AstraZeneca yang ditampilkan dalam ilustrasi (31/10/2020) – foto Ant

ADEN – Yaman, menerima kiriman vaksin COVID-19 pertamanya pada Rabu (31/3/2021), atau sepekan setelah pemerintah yang diakui oleh komunitas internasional di negara yang rusak akibat peperangan itu mengumumkan darurat kesehatan, sebagai respon terhadap gelombang kedua pandemi.

Sebanyak 360.000 dosis vaksin AstraZeneca tiba di Aden menggunakan pesawat. “Kiriman tersebut bagian dari pengiriman skema inisiatif vaksin global COVAX, yang diperkirakan akan mengirim total 1,9 juta dosis,” kata UNICEF .

Di ibu kota pemerintah sementara, para pasien di pusat isolasi yang ada di lahan rumah sakit, berbaring di tempat tidur sementara dan tenda-tenda di samping tabung oksigen, bernafas dengan berat. “Kami membutuhkan lebih banyak staf, karena peningkatan dalam jumlah kasus tidak normal. Kami kelelahan,” kata dokter dan direktur pusat isolaso, Zainab al-Qaisi, Rabu (31/3/2021).

Pusat isolasi itu dibangun oleh Palang Merah tahun lalu. “Pusat ini kewalahan. Kami butuh oksigen, untuk memperluas perawatan intensif di seluruh provinsi,” tambahnya.

Vaksin dari COVAX akan diberikan gratis. Dan didistribusikan ke seluruh penjuru negara yang terpecah. Hal tersebut, sebagaimana dikonfirmasi oleh Menteri Kesehatan Yaman, Ali al-Walidi pekan lalu. Tepatnya, dua hari usai negara itu mengumumkan darurat kesehatan, di area-area yang berada di bawah kontrolnya.

Walidi mengatakan, ada lebih banyak vaksin akan tiba pada Mei mendatang. Kelompok bantuan M©decins Sans Fronti¨res (MSF) mengatakan, pekan lalu mereka telah melihat arus yang dramatis atas pasien COVID-19, yang kritis di berbagai bagian negara. Dan mereka kekurangan semua aspek, terkait penanganan COVID-19. “Sementara sejumlah negara telah berhasil dalam memvaksinasi setengah dari populasinya, Yaman menemukan dirinya di belakang antrian,” kata Kepala MSF di Yaman,, Raphael Veicht.

Sistem kesehatan Yaman telah terdampak parah oleh peperangan, robohnya ekonomi, serta kekurangan bantuan dana kemanusiaan, menjadi faktor penyebab kondisi tersebut. Peperangan selama enam tahun telah membatasi tes dan pelaporan. Pergerakan Houthi, yang melawan koalisi pro pemerintah dan mengontrol kebanyakan pusat urban yang besar, tidak melaporkan angka infeksi sejak Mei lalu.

Namun, jumlah kasus terkonfirmasi telah melonjak cepat sejak pertengahan Februari, kemarin. Komite virus corona darurat Yaman melaporkan, ada 132 kasus terkonfirmasi dan 19 kematian pada Selasa (30/3/2021).

Mereka telah mencatat lebih dari 4.100 infeksi virus corona dan 864 kematian sejauh ini. Walidi mengatakan, angka yang sesunguhnya kemungkinan jauh lebih besar. Dan pendapat yang sama juga dimiliki oleh PBB dan badan-badan bantuan. COVAX, dipimpin bersama oleh aliansi GAVI, yang mengamankan vaksin untuk negara-negara miskin, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Koalisi untuk Inovasi Kesiapan Epidemi dan UNICEF. (Ant)

Lihat juga...