Lebaran CDN

Kisah Ajat, Jualan Keliling Menawarkan Hasil Kerajinan Golok 

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya jadi hal biasa bagi Ajat, yang berprofesi sebagai pedagang kerajinan golok karya para pengrajin di salah satu kampung asalnya wilayah Serang, Banten.

Golok khas Banten yang dibawa Ajat keliling itu pun, memiliki beragam bentuk dan corak. Bahkan ada berbagai jenis pisau yang biasa dihamparkan sebagai pilihan di berbagai sudut tak terkecuali seperti tempat rest area tol jadi lokasinya berjualan.

Ajat adalah warga asli Desa Seuat, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang Banten. Dia mengakui, tempat asalnya dikenal sebagai kampung perajin golok khas Banten. Karena mayoritas warganya berprofesi sebagai pandai besi.

“Saya berkeliling berjualan golok sudah lama, sejak usia sekolah keliling ke berbagai tempat bahkan hingga ke Cikarang, pusat industri M100 Kabupetan Bekasi,” ujar Ajat kepada Cendana News, di temui di sekitar rest area Jatibening, Selasa (13/4/2021).

Diakuinya, kampungnya Seuat Jaya, sejak ratusan tahun silam warganya berprofesi sebagai pengrajin golok. Sampai sekarang masih dilanjutkan generasi penerus, tapi Ajat lebih memilih untuk berkeliling menawarkan hasil perajin di Kampungnya.

Berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya, menjadi hal biasa bagi Ajat untuk menawarkan bermacam golok yang dibawanya menggunakan ransel. Bahkan semua yang ditawarkan adalah golok jenis tajam.

“Ini golok tajam semua buat di rumah, bisa buat jaga diri atau sebagai hiasan dinding. Pisau juga ada bisa juga buat pisau dapur,” paparnya.

Selain berkeliling ia juga menjual golok karya pengrajin di kampungnya Seuat melalui media sosial. Peminatnya ada saja terutama dari luar daerah seperti Batam ataupun hingga Kalimantan.

“Bahan baku golok yang dikembangkan di Desa Seuat, biasanya dari per mobil atau besi. Banyak juga yang telpon pesan dibuatkan golok khas daerah tertentu, kalau sudah begitu tentu harganya berbeda,” jelasnya.

Untuk harga golok yang ditawarkan Ajat dengan keliling dari satu tempat ke tempat lainnya cukup bervariasi dimulai dari harga Rp80 ribu hingga Rp250 ribu per bilahnya. Untuk harga jelasnya menyesuaikan bentuk dan model.

Selain bahan, golok juga ada nilai seni dari gagang tempat pegangannya, sarung dan bentuk golok sendiri. Semua itu tentu memiliki nilai tersendiri jelasnya. Bahan baku juga menentukan karena selain dari per mobil ada juga besi ranjang

Dari berbagai jenis golok yang dijajakan berkeliling tersebut disebut Ajat, golok Sulangkar paling banyak diminati, karena memiliki khas tersendiri. Ia mengistilahkan di Banten golok tersebut adalah golok Jawara karena memiliki bahan besi pilihan dan full aksesoris bahkan gagangnya biasanya dari bahan tanduk kerbau.

Kemudian golok bedog, sorenan dan lainnya semua memiliki harga tersendiri yang disesuaikan dari bahan baku.

Selama berjualan golok keliling dari Banten hingga ke Jawa Barat, Ajat mengaku banyak pengalaman di dapatnya. Terkadang ada yang sengaja datang saat dirinya menggelar dagangnya hanya melihat dan mengetes kekebalannya dengan golok tersebut.

“Banyak suka duka berjualan keliling begini, tapi nama juga rejeki sehari terkadang bisa puluhan terjual. Apalagi saat ngegelar di emperan rest area tol begini banyak yang tengah melakukan perjalanan membeli sebagai oleh-oleh,” tukasnya.

Hal tersebut seperti diakui oleh Wahid, yang dalam perjalanan ke Lampung dari Jawa Barat. Ia membeli satu bilah golok jenis gedog, untuk senjata di rumah jika sewaktu-waktu diperlukan.

“Ini beli buat di jalan saja, untuk di rumah sebagai oleh-oleh, karena terkadang diperlukan untuk ke kebun dan lainnya,” papar Wahid, mengaku akan ke daerah Pesisir Barat Lampung.

Lihat juga...